Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Hambat Penciptaan Pekerjaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 1 Prabowo Subianto (kanan) dan capres nomor urut 2 Joko Widodo (kiri) didampingi moderator debat Ahmad Erani Yustika (tengah) bersiap memulai debat calon presiden yang diselenggarakan KPU di Hotel Grand Melia, Jakarta, 15 Juni 2014. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

    Capres nomor urut 1 Prabowo Subianto (kanan) dan capres nomor urut 2 Joko Widodo (kiri) didampingi moderator debat Ahmad Erani Yustika (tengah) bersiap memulai debat calon presiden yang diselenggarakan KPU di Hotel Grand Melia, Jakarta, 15 Juni 2014. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta- Direktur Eksekutif INDEF Ahmad Erani Yustika mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus terjadi berdampak pada banyak hal.

    "Dampaknya ada pada upaya penciptaan lapangan pekerjaan, akan makin sulit," ujar Ahmad Erani Yustika saat dihubungi, Minggu, 2 November 2014. (Baca: Pekan Depan, Indeks Saham Terpengaruh Isu BBM)

    Erani menyatakan kondisi perlambatan sepanjang 2014 ini membuat upaya penciptaan lapangan pekerjaan tidak tercapai. Juga kemampuan mengentaskan kemiskinan menjadi lebih sulit.

    Selain itu, tutur dia, ekspor dan investasi tidak akan menunjukkan perbaikan. Menurut Erani, sepanjang 2014, pertumbuhan ekonomi akan tetap berada di kisaran 5,2 persen.

    Pertumbuhan ekonomi di atas 5,2 persen, kata dia, akan sulit terjadi dengan berbagai kondisi yang ada saat ini. (Baca: Kata Fahri Hamzah Soal Kenaikan Harga BBM Bersubsidi)

    Pekan lalu, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2014 berada di angka 5,1 persen. Sedangkan secara perhitungan keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5,2 persen. (Baca: Pangkas Defisit, Jokowi Andalkan Turis)

    Menurut Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia, konsumsi swasta, perbaikan ekspor, dan investasi masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2014. Perbaikan konsumsi pemerintah juga menjadi salah satu faktor pendukung. Namun peningkatan konsumsi tidak setinggi seperti yang diperkirakan.

    "Hal ini terjadi karena ekspansi keuangan pemerintah masih terbatas, karena menyelamatkan devisit fiskal, akibat beban subsidi," kata Erani.

    MAYA NAWANGWULAN




    Baca juga:
    Kurator Seni: Logo Baru Yogyakarta Mirip Iklan Obat Kuat
    Penghina Presiden Ini Masih Ditahan Polisi
    JK Minta Perantau Sulsel Jaga Kebhinekaan
    Raden Nuh Ditangkap, Tetangga Kos Tak Tahu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.