Rupiah Ditutup Menguat di Level 15.192 per USD, Analis: Ayunan Dolar AS Lebih Rendah

Petugas menunjukkan uang rupiah kertas tahun emisi 2022 pada Festival Rupiah Berdaulat Bank Indonesia di Jakarta, Jumat 19 Agustus 2022. Adapun pecahan uang rupiah baru tahun emisi 2022 ini terdiri atas pecahan Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2000, dan Rp 1000. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Rupiah ditutup menguat 55 poin di level Rp 15.192 pada perdagangan sore hari ini, Rabu, 5 Oktober 2022 bila dibandingkan pada penutupan sebelumnya di level Rp15.247 per dolar AS. Padahal sebelumnya nilai tukar rupiah sempat menguat 75 poin.

Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, rupiah menguat di antaranya karena pergerakan indeks dolar AS. "Dolar sedikit menguat walaupun sebelumnya sempat melemah, tetapi ayunannya lebih rendah," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia memperkirakan volatilitas dolar akan berakhir tiba-tiba dalam beberapa hari mendatang karena data pekerjaan bulanan AS pada hari Jumat berpotensi untuk menenggelamkan harapan baru-baru ini dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). 

Berdasarkan data pada Jumat pekan lalu, 30 September 2022, diperkirakan bakal tercipta sekitar 250.000 pekerjaan di Amerika Serikat. Angka tersebut di bawah 315.000 yang terlihat pada Agustus, dengan perkiraan pendapatan rata-rata per jam tetap stabil di sekitar 0,3 persen dan tingkat pengangguran di 3,8 persen.

Ia menuturkan pasar tenaga kerja yang tetap ketat itu telah mengancam kenaikan upah. The Fed telah memperjelas bahwa hal itu dapat memperlambat ekonomi dan pertumbuhan pekerjaan tetap menjadi pusat rencananya untuk mendinginkan inflasi.

Terhadap latar belakang inflasi yang panas, Ibrahim berujar, bos The Fed Jerome Powell bersikeras pada pendekatan kebutuhan untuk mempercepat untuk mendapatkan suku bunga acuan ke wilayah yang membatasi dan telah berulang kali mendorong kembali terhadap taruhan pada poros Fed.

"Tetapi gelombang data ekonomi global yang lebih lemah baru-baru ini telah menghidupkan kembali harapan poros Fed, mendorong imbal hasil Treasury lebih rendah dan menekan greenback," ujarnya. 

Namun, bila The Fed memberi sinyal jeda, kemungkinan suku bunga dana akan berada pada 3 persen hingga 3,25 persen. Level tersebut menunjukkan masih ada banyak ruang hingga mencapai puncak yang diharapkan, atau tingkat terminal sekitar 4,5 persen. Situasi itu yang dinilai bakal menyisakan banyak amunisi untuk dolar untuk menghentikan penurunannya.

Di sisi lain, pasar terus memantau perkembangan penanganan atau antisipasi pemerintah dalam tahun depan untuk menahan laju inflasi yang cukup tinggi. Apalagi, menurutnya sebagian negara-nergara Eropa sudah terdampak resesi sehingga perlu ada amunisi baru untuk menanggulanginya. 

"Walaupun saat ini sudah ada strategi bauran ekonomi yang dijadikan andalan baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia," ucap Ibrahim.

Lebih jauh ia menyatakan tahun 2023 bakal lebih menantang karena ada bahaya resesi yang terus menghantui. Terlebih beberapa negara di dunia tengah mengalami dampak resesi tersebut. Oleh karena itu, menurut Ibrahim, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk mendorong permintaan dari masyarakat.

Ia menilai keinginan pemerintah mendorong terjadinya konsolidasi fiskal untuk mendorong permintaan atau demand dari masyarakat menjadi cukup menantang, tetapi masih bisa dilakukan. Artinya, ruang fiskal yang ditargetkan di tahun depan mencapai 2,8 persen terhadap PDB.

Ibrahim menyarankan defisit anggaran dimaksimalkan atau diprioritaskan kepada pos-pos belanja yang bisa memberikan efek ganda ke perekonomian. Pemerintah sebenarnya juga masih bisa membuka opsi untuk menambah defisit anggaran, misalnya menjadi 2,9 atau bahkan 2,95 persen terhadap PDB untuk mengakomodasi belanja yang diperuntukkan untuk masyarakat langsung seperti misalnya bantuan sosial.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah. Rupiah diprediksi bakal bergerak di kisaran Rp 15.180 hingga Rp 15.260 per dolar AS.

Baca: Kemenkeu Sebut Dampak Kenaikan Harga BBM ke Inflasi Lebih Rendah dari Perkiraan, Kenapa?

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini. 






Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

1 jam lalu

Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Desember 2022 dengan penguatan 169 poin di level Rp 15.563 per dolar AS.


Ombudsman Temukan Partisipasi Tak Berjalan saat Penetapan Upah Minimum 2023

1 jam lalu

Ombudsman Temukan Partisipasi Tak Berjalan saat Penetapan Upah Minimum 2023

Ombudsman menemukan dugaan maladministrasi dalam proses pembentukan Permenaker Nomor 18 Tahun 2022 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2023.


Samuel Sekuritas: IHSG Turun Cukup Dalam, Saham BCA Melemah usai Aksi Profit Taking

3 jam lalu

Samuel Sekuritas: IHSG Turun Cukup Dalam, Saham BCA Melemah usai Aksi Profit Taking

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup di level 7.020,8, atau turun 0,85 persen dibandingkan angka penutupan kemarin, (7.081,3).


Inflasi November Turun jadi 5,42 Persen, BPS: Tertinggi di Tanjung Selor

6 jam lalu

Inflasi November Turun jadi 5,42 Persen, BPS: Tertinggi di Tanjung Selor

BPS mencatat inflasi per November 2022 sebesar 5,42 persen secara tahunan atau turun dari posisi Oktober 2022 sebesar 5,71 persen.


Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Jokowi: APBN 2023 Fokus pada 6 Kebijakan

7 jam lalu

Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Jokowi: APBN 2023 Fokus pada 6 Kebijakan

Presiden Jokowi membeberkan strategi Indonesia merespons tantangan ekonomi global yang bergejolak. APBN 2023 dipastikan berfokus pada 6 kebijakan.


Jokowi Kutip Pernyataan Bos IMF: Di Tengah Dunia yang Gelap, RI Adalah Titik Terang

7 jam lalu

Jokowi Kutip Pernyataan Bos IMF: Di Tengah Dunia yang Gelap, RI Adalah Titik Terang

Presiden Jokowi mengutip pernyataan Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) yang memuji kondisi ekonomi Indonesia.


Mulai Hari Ini Hingga 7 Desember, Buruh Gelar Demo Besar-besaran Tolak Kenaikan UMP DKI Jakarta

12 jam lalu

Mulai Hari Ini Hingga 7 Desember, Buruh Gelar Demo Besar-besaran Tolak Kenaikan UMP DKI Jakarta

Sejumlah serikat buruh dan Partai Buruh dijadwalkan menggelar demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk penolakan kenaikan UMP DKI Jakarta 2023.


Jokowi Sebut Situasi Tahun Depan Sangat Sulit: Kita Harus Memiliki Perasaan yang Sama

15 jam lalu

Jokowi Sebut Situasi Tahun Depan Sangat Sulit: Kita Harus Memiliki Perasaan yang Sama

Jokowi mengatakan kekeliruan dalam mengimplementasikan kebijakan fiskal maupun moneter dapat menimbulkan risiko yang besar.


Indef Prediksi Inflasi November Tembus 0,3 Persen, Harga Beras Jadi Pendorong Terbesar

20 jam lalu

Indef Prediksi Inflasi November Tembus 0,3 Persen, Harga Beras Jadi Pendorong Terbesar

Secara year on year, inflasi diperkirakan bakal mencapai 5 persen pada November ini.


Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

1 hari lalu

Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan Indonesia memiliki kekuatan tersendiri untuk menghadapi perekonomian global yang bergejolak.