Ekonomi RI Tumbuh di Tengah Ancaman Resesi Global, Ekonom: Tapi Under Performance

Aktivitas pedagang di Pasar Rawamangun, Jakarta, Senin, 23 Mei 2022. Komoditas bawang, cabai, gula, dan telur ayam mengalami tren kenaikan dalam satu minggu terakhir. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan perekonomian Indonesia kemungkinan bisa tumbuh di tengah ancaman reses global 2023. Dia memproyeksikan angka pertumbuhan tahun depan mungkin bisa mencapai 4,6 persen tapi lebih rendah dari tahun ini.

“Ya mungkin kita bisa tumbuh. Sekarang gini deh, demografi kita besar, itu kan dari basis konsumsi gitu, jadi proyeksinya mungkin bisa 4,6 persen pertumbuhan tahun depan, tapi lebih rendah dari tahun ini,” ujar dia melalui sambungan telepon Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

Dia menilai perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh positif tapi under performance. “Jadi kita kayak under performance gitu ya. Karena ada ancaman resesi tadi,” tutur Bhima.

Hal itu terjadi karena beberapa koreksi seperti pelemahahan nilai tukar rupiah terhadap dolar secara kontinu yang kemungkinan akan mencapai titik Rp 15.700 sampai Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat. “Itu masih dalam batas yang moderat,” kata dia.

Pelemahan nilai tukar rupiah itu juga bisa menyebabkan imported inflation dari biaya impor terutama impor pangan yang ketergantungannya makin tinggi, seperti gula, garam, gandung, bawang putih, dan daging. Itu kemungkinan bisa mempengaruhi biaya bahan baku dari inflasi 2023. 

Selanjutnya adalah stagflasi di dalam negeri. Menariknya, dia berujar, setelah melihat data pengangguran usia muda, yang sebelumnya pada tahun 1997 itu angkanya 14,6 persen, tahun 2021 angkanya menjadi 16 persen.

“Jadi situasi sekarang sebenarnya, stagflasi ini kan kondisi harga barang naik tidak imbangi oleh kesempatan kerja, jadi harga barangnya naik, inflasinya diperkirakan tahun ini 7 persen lebih sementara dari kesempatan lerjanya terbatas,” ucap Bhima.

Dia menilai hal itu risiko dan efeknya bisa kemana-mana. Mulai dari pendapatan negara, juga aktivitas konsumsi rumah tangga, realisasi investasi. “Karena kan orang mau investasi melihat domestiknya masih solid apa enggak. Ya jadi itu risikonya,” tutur Bhima.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Faisal Rachman juga menanggapi ancaman resesi global 2023 terhadap perekonomian Indonesia. Menurut dia, untuk mengalami resesi masih sangat kecil kemungkinannya, karena ekonomi Indonesia degree of openness-nya tidak terlalu tinggi.

“Jadi mayoritas ekonomi Indonesia ditopang oleh kegiatan ekonomi domestik seperti konsumsi rumah tangga,” ujar dia kepada Tempo pada Selasa, 27 September 2022.

Dampaknya yang mungkin terasa, kata Faisal, adalah penurunan kinerja ekspor karena permintaan global turun, dan harga komoditas juga kemungkinan turun. Jadi Indoensia bisa kembali mengalami defisit neraca dagang, dan seiring harga komoditas yang turun, penerimaan negara terutama dari Le Programme National de Développement Participatif (PNDP) bisa turun juga.

Jadi, menurut Faisal, indikasi yang bisa dilihat paling cepat adalah turunnya kinerja ekspor, nercara dagang yang berisiko kembali defisit, dan penerimaan negara yang turun. Selain itu, tekanan akan dirasakan pada nilai tukar rupiah karena investor cenderung akan mengalihkan dananya ke safe haven seperti dolar Amerika. 

“Sektor usaha yang paling cepat terdampak adalah sektor-sektor yang ekspor oriented terutama terkait komoditas. Betul (peluang yang harus digarap untuk pertumbuhan tahun depan adalah pasar domestik), terutama dalam menjaga daya beli,” ucap dia.

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini






Aktivitas Pabrik di Cina Terkontraksi karena Aturan Covid-19

1 hari lalu

Aktivitas Pabrik di Cina Terkontraksi karena Aturan Covid-19

Aktivitas pabrik di Cina terkontraksi lebih cepat pada November 2022 buntut dari pembatasan aktivitas karena penyebaran Covid-19


Ekonomi Dunia Tahun Depan Diprediksi 2,2 Persen, Asia Jadi Mesin Pertumbuhan

8 hari lalu

Ekonomi Dunia Tahun Depan Diprediksi 2,2 Persen, Asia Jadi Mesin Pertumbuhan

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global turun.


Pengusaha Cina Prihatin Bisnis Anjlok karena Aturan Covid-19 Terlalu Ketat

9 hari lalu

Pengusaha Cina Prihatin Bisnis Anjlok karena Aturan Covid-19 Terlalu Ketat

Para pelaku usaha di Cina mengeluh karena menghadapi iklim bisnis yang lesu buntut dari aturan Covid-19 yang ketat.


KTT APEC Diganggu Uji Coba Rudal Balistik Korea Utara

13 hari lalu

KTT APEC Diganggu Uji Coba Rudal Balistik Korea Utara

KTT APEC yang diselenggarakan di Bangkok diganggu oleh Korea Utara yang melakukan uji coba rudal berselang satu jam sebelum pertemuan dimulai.


Pengertian Produksi dan Berbagai Jenisnya

13 hari lalu

Pengertian Produksi dan Berbagai Jenisnya

Produksi salah satu rangkaian dari kegiatan ekonomi


Demi Selamatkan Ekonomi, Inggris Bakal Naikkan Pajak

18 hari lalu

Demi Selamatkan Ekonomi, Inggris Bakal Naikkan Pajak

Jeremy Hunt mengumumkan rencana untuk menaikkan sejumlah pajak pada pekan depan sebagai upaya untuk memperbaiki keuangan Inggris.


Indonesia Jadi Tuan Rumah KTT G20, Ini Sejarah Perjalanan G20

20 hari lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah KTT G20, Ini Sejarah Perjalanan G20

Sejak 2008, G20 menghadirkan Kepala Negara dalam KTT G20 dan pada 2010 dibentuk pula pembahasan sektor pembangunan.


Volodymyr Zelensky Persiapan Ikut KTT G20 Bali Online

20 hari lalu

Volodymyr Zelensky Persiapan Ikut KTT G20 Bali Online

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah merampungkan persiapannya untuk partisipasinya di KTT G20 Bali.


Bakal Digelar 15-16 November 2022 di Bali, Apa Itu KKT G20?

21 hari lalu

Bakal Digelar 15-16 November 2022 di Bali, Apa Itu KKT G20?

G20 adalah sebuah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia.


Kasus Baru Covid-19 di Guangzhou Naik

22 hari lalu

Kasus Baru Covid-19 di Guangzhou Naik

Dari total kasus baru Covid-19 di Cina, hampir satu pertiga berada di wilayah Guangzhou.