Kisah Kedubes Hongaria Soal Roatex Ltd, Pemenang Tender Tol Nirsentuh Rp 4,3 T

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara mobil melakukan pembayaran nontunai menggunakan kartu uang elektronik ataue-toll di Gerbang tol RAMP Taman Mini 2,  Jakarta,  Kamis 7 September 2017. Sosialisasi penggunaan E-Toll pun terus dilakukan, sebagian gardu tol kini hanya melayani non tunai. TEMPO/Subekti.

    Pengendara mobil melakukan pembayaran nontunai menggunakan kartu uang elektronik ataue-toll di Gerbang tol RAMP Taman Mini 2, Jakarta, Kamis 7 September 2017. Sosialisasi penggunaan E-Toll pun terus dilakukan, sebagian gardu tol kini hanya melayani non tunai. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kedutaan Besar Hongaria di Jakarta ikut mengomentari perusahaan asal negara mereka, Roatex Ltd yang menang proyek sistem tol nirsentuh alias Multi Lane Free Flow (MLFF). Proyek senilai Rp 4,3 triliun ini akan digarap Roatex pada pertengahan 2021.

    "Kedutaan yakin sebagai hasil dari kerja sama ini, jumlah kemacetan di jalan-jalan di Indonesia akan segera berkurang," tulis pihak Kedubes dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 29 Januari 2021.

    Mereka kemudian menceritakan bahwa persiapan proyek ini sebenarnya telah berlangsung hampir 4 tahun. Berikut proses persiapan proyek tersebut:

    2017

    Pada 2017, Pemerintah Hongaria menawarkan persiapan prastudi kelayakan (preliminary feasibility study) terkait dengan proyek MLFF. Prastudi kelayakan ini, didanai oleh Pemerintah Hongaria, diselenggarakan oleh Hungary's National Toll Payment Services (NTPS) Plc.

    Tawaran datang karena mereka menilai sistem pembayaran tol elektronik Hongaria berfungsi sangat baik. Sebab, sistem ini dirancang tidak hanya oleh NTPS Plc. saja, namun juga dengan keterlibatan sejumlah perusahaan Hongaria lainnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.