Dahlan Iskan Sarankan Bantuan untuk Eksportir Diprioritaskan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dahlan Iskan. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Dahlan Iskan. ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri BUMN periode 2011-2014 Dahlan Iskan menyarankan pemerintah memprioritaskan bantuan dan dukungan ekonomi kepada perusahaan-perusahaan eksportir di tengah pandemi Covid-19.

    "Menurut saya yang nomor satu adalah para eksportir harus betul-betul dijaga jangan sampai perusahaan-perusahaan eksportir ini tumbang. Karena begitu tumbang, bukan hanya perusahaan itu saja yang sulit tetapi juga semua pihak termasuk bangsa Indonesia mengalami kesulitan," kata Dahlan dalam seminar daring di Jakarta, Senin, 18 Mei 2020.

    Menurut dia, perusahaan-perusahaan eksportir ini jangan sampai tumbang akibat Covid-19 karena jaringan bisnis dan relasi mereka di tataran global bisa hilang dan akses mereka ke pasar internasional juga ikut hilang.

    Selain itu, lanjur Dahlan, ketika tumbang, jalur logistik perusahaan eksportir dan jalur logistik di dalam negeri akan hilang. Sistemnya juga ikut menghilang sehingga penyesalan bangsa Indonesia akan luar biasa.

    "Sebaiknya pemerintah memiliki daftar perusahaan-perusahaan eksportir yang harus dijaga agar jangan sampai perusahaan ini tumbang akibat pandemi Covid-19, termasuk dukungan apa yang harus diberikan," ujarnya.

    Dahlan juga mengatakan ekspor adalah kebijakan andalan yang sangat diperlukan bagi semua negara, terlebih lagi dalam era kebiasaan baru (new normal) saat ini.

    Selain perusahaan eksportir, Dahlan menyarankan pemerintah membantu dan memberikan dukungan ekonomi kepada perusahaan-perusahaan yang selama ini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor.

    "Menurut pendapat saya sekarang ini kita memang harus berpihak kepada pelaku usaha, tetapi kita juga melihat peran pengusaha tersebut dalam menjaga perekonomian nasional," katanya.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyampaikan pada Januari-Maret 2020, neraca perdagangan Indonesia membaik dengan mengalami surplus sebesar US$ 2,6 miliar yang terdiri atas surplus nonmigas US$ 5,7 miliar dan defisit migas US$ 3,0 miliar.

    Ekspor Indonesia juga tercatat sebesar US$ 41,8 miliar atau naik 2,91 persen dibandingkan Januari-Maret 2019.

    Cina, Amerika Serikat, dan Jepang masih menjadi negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pangsa masing-masing sebesar 15,1 persen, 12,2 persen dan 8,7 persen terhadap ekspor nonmigas periode Januari-Maret 2020.

    "Namun, perlu juga kita cermati pada masa pandemi ini, ekspor nonmigas justru tumbuh signifikan ke Singapura yaitu naik 35,4 persen dan Italia naik 22,5 persen," kata Jerry.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.