Ketika Citilink dan Lion Air Group Andalkan Bisnis Kargo

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Sriwijaya Air dan Lion air. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pesawat Sriwijaya Air dan Lion air. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah menutup seluruh penerbangan penumpang sebagai tindak lanjut pemberlakuan larangan mudik, maskapai penerbangan Citilink Indonesia kini mengandalkan bisnisnya pada layanan kargo. Sebelumnya, Lion Air Group pun bertahan dengan bisnis kargo atau pengangkutan barang di tengah kebijakan pembatasan mobilisasi masyarakat.

    “Citilink telah mengoperasikan penerbangan kargo secara penuh untuk membantu kelancaran proses distribusi logistik di berbagai wilayah,” ujar Direktur Utama Citilink Juliandra, Senin, 27 April 2020.

    Saat ini, maskapai mengoperasikan penerbangan kargo untuk semua rute, baik domestik maupun internasional. Layanan pengiriman kargo pun dilakukan melalui penerbangan carter dan reguler.

    Juliandra menjelaskan, armada yang digunakan untuk mengangkut kargo merupakan pesawat jenis Airbus A320 dengan kapasitas angkut 15 ton. Perseroan juga memanfaatkan Airbus A330 dengan kapasitas kargo 24 ton.

    Untuk menjaga kebersihan dan sterilisasi kabin pesawat, Citilink melakukan desinfeksi armada sesuai dengan protokol kesehatan. Upaya ini dilakukan setiap hari. “Proses desinfeksi dilakukan di area kabin maupun kompartemen untuk memastikan aspek kebersihan pada pesawat sehingga armada tetap higienis," ujar Juliandra.

    Pada pertengahan April lalu, Lion Air Group mengoptimalisasi layanan kargo di masa pandemi virus corona Covid-19. Layanan ini menjadi lini bisnis maskapai yang masih berdenyut.

    "Prediksi atau tren penumpang mendatang turun. Terlepas dari Covid-19, saat ini hingga puasa dikenal dengan low season. Kami jalankan layanan kargo dalam rangka optimalisasi," ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihartono, Kamis, 16 April 2020.

    Adapun layanan kargo dioperasikan dengan dua mekanisme. Pertama, maskapai mengandalkan operasional penerbangan penumpang reguler atau angkutan niaga berjadwal.

    Kedua, layanan angkutan kargo dilakukan melalui charter freight atau sewa sesuai dengan standar operasional prosedur yang ditetapkan. Adapun manajemen membidik rute untuk charter yang potensial. Di antaranya meliputi Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Manado.

    Lion Air sudah memperkuat layanan kargonya sejak paceklik tahun lalu. Manajemen menyeriusi bisnis kargo melalui Lion Parcel.

    Lini ini digadang-gadang mampu menjadi masa depan bagi salah satu sayap bisnis ketika keuangan perusahaan tergerus. Musababnya sejak akhir 2018, perseroan mengalami persoalan beruntun. Mulai kecelakaan JT-610, disangkarkannya Boeing 737 Max 8, hingga dugaan kartel tiket dan kargo yang terendus Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan maskapai wajib memperkuat layanan logistik di samping layanan penumpang komersial. Kebijakan itu pun dimandatkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 yang mengatur transportasi pada masa pandemi corona.

    "Jadi harus kombinasi, selain penumpang, ada misi utama mengangkut logistik yang urgent. Diwajibkan di seluruh rute," tuturnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.