GAPMMI: Relaksasi Impor Perlu untuk Stok Makanan di Semester Dua

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi usaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia.

    Ilustrasi usaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi berharap pemerintah kembali merelaksasi impor untuk pasokan bahan baku industri makanan dan minuman dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

    Keputusan tersebut dinilai harus segera diambil untuk ketersediaan pasokan Ramadan-Lebaran hingga kebutuhan pasokan semester kedua. "Kalau ada pelaku usaha ajukan Persetujuan Impor (PI) jangan dikekang. Ini untuk longgarkan kegiatan usaha. Kalau dikekang, industri tidak jalan," ujar Subandi seperti dilansir Koran Tempo edisi Selasa 14 April 2020.

    Sejauh ini, Kementerian Perdagangan baru menghapus sementara larangan terbatas (lartas) bagi komoditas bawang putih dan bawang bombai. Namun, Subandi menilai pelonggaran dua komoditas tersebut belum cukup. Subandi berharap pemerintah tidak lagi terlambat mengambil keputusan impor yang berujung pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan seperti saat ini.

    Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik dan Hubungan Antar Lembaga GAPMMI Rachmat Hidayat mengatakan bahan baku yang digunakan industri hingga Ramadan-Lebaran ini merupakan stok yang disiapkan sejak awal tahun. Meski begitu, Rahmat mengatakan industri sudah harus menyiapkan pasokan semester kedua tepat setelah Lebaran.

    "Jadi, pasti akan kekurangan pada semester depan sehingga sudah harus mulai impor, kami mohon agar pemerintah fasilitasi perizinan," kata Rahmat.

    Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan kesulitan bahan baku juga dialami oleh industri kecil dan menengah (IKM) sektor makanan. Hal ini, kata dia, terjadi akibat penyebaran Covid-19 yang semakin meluas. "Tak hanya kesulitan pasokan bahan baku makanan, harganya pun saat juga meningkat," ujar Gati.

    Ia mencatat harga kedelai dari Rp6.700 per kilogram (kg) naik menjadi Rp 8.500. Kebutuhan ini sudah sulit didapatkan di luar Pulau Jawa. Harga gula pasir naik dari Rp12.500 per kg menjadi Rp18.000 per kg, bahkan ada yang mencapai Rp21.000 per kg di Kota Palu. Kenaikan harga juga terjadi pada bahan baku gula rafinasi, dari Rp9.000 per kg menjadi Rp11.000 per kg.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.