25 Anak Usaha Bakal Dipangkas, Bos Pertamina Janji Tak Ada PHK

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. ANTARA

    Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan ada 25 anak usaha perseroan yang bisa dilikuidasi atau didivestasikan dalam dua tahun ke depan. Jumlah tersebut dihasilkan dari kajian perseroan mengenai rasionalisasi anak usaha guna efisiensi. "Ini secara operasional sudah tidak berjalan," ujar dia dalam siaran langsung, Jumat, 3 April 2020.

    Kendati bakal menutup atau melepas 25 anak usahanya, Dirut Pertamina berjanji, proses tersebut tidak diwarnai dengan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Nicke mengatakan, pegawai dari anak usaha yang dilikuidasi akan ditarik ke perusahaan induk. Sementara, karyawan dari perusahaan yang didivestasi dijamin akan kembali direkrut oleh perusahaan yang mengakuisisi.

    Dari 25 perusahaan anak yang bakal dirasionalisasi, Nicke ngatakan delapan perusahaan dipangkas pada tahun ini dan 17 lainnya tahun depan. Adapun untuk delapan perusahaan yang kena perampingan itu, tujuh perusahaan bakal dilikuidasi dan satu perusahaan didivestasikan. "Lalu kami akan lihat lagi nanti mana yang bisa merger atau tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan akuisisi untuk memperkuat bisnis utama."

    Nicke mengatakan pemangkasan 25 anak usaha BUMN itu akan memberikan efisiensi kepada perusahaan, sekaligus mengurangi beban perseroan ke depannya. Di samping itu, perusahaan yang aktif nantinya diharapkan bisa fokus dalam memberi nilai tambah kepada perusahaan.

    Menteri BUMN Erick Thohir menambahkan, harapan utama dari rasionalisasi anak usaha adalah konsolidasi dan efisiensi. Sementara, skema divestasi dinilai tidak akan signifikan dampaknya karena tidak terlalu besar. Erick meminta agar rasionalisasi itu tidak menyebabkan pemutusan hubungan kerja. "Nasib karyawan bagaimana, kami upayakan seminimal mungkin, tidak lay-off," ujar dia.

    Erick Thohir melihat, dalam rasionalisasi anak dan cucu perusahaan ini banyak perusahaan anak atau cucu yang bisa digabungkan ke perusahaan lainnya. Sehingga, pegawai dari anak usaha yang ditutup bisa dipindahkan ke sana. "Misalnya di Garuda Indonesia itu ada Garuda Tauberes yang melayani online cargo, unit kargo kan sudah ada, untuk apa dispin-off, gabungkan saja."

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.