Rezim Bunga Rendah Diprediksi Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi 2020

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan Sistem Kesejahteraan SosialTerpadu Nasional (SKSTN) nantinya akan menjadi pusat rujukan data kesejahteraansosial dan solusi penyediaan data untuk program kesejahteraan sosial di semualevel.

    Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan Sistem Kesejahteraan SosialTerpadu Nasional (SKSTN) nantinya akan menjadi pusat rujukan data kesejahteraansosial dan solusi penyediaan data untuk program kesejahteraan sosial di semualevel.

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta meyakini tren penurunan suku bunga di ekonomi global dan juga domestik, akan mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, setelah pada 2019 mencapai pertumbuhan 5,02 persen.

    Arif dalam paparan di Wisma Negara, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020, mengatakan efek dari pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia pada 2019 sebesar 100 basis poin, menjadi 5 persen, akan mendorong permintaan dan konsumsi masyarakat pada tahun ini.

    Konsumsi masyarakat, kata Arif, masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun ini dengan kontribusi hingga lebih dari 55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

    "Yang akan menopang pertumbuhan ekonomi kita tahun ini adalah rezim suku bunga rendah (di global). Ini yang akan membuat 'capital inflow' (modal asing masuk) ke Indonesia," ujar dia.

    Mantan anggota DPR itu mengatakan pada 2020, beberapa bank sentral juga memproyeksikan untuk menurunkan suku bunga acuannya guna menstimulus pertumbuhan ekonomi yang tertekan selama 2019.

    Oleh karena itu, dia mengharapkan Bank Indonesia juga memiliki ruang pada tahun ini untuk kembali memangkas suku bunga acuan.

    "Ke depan, aspek makroprudensial dan juga respons suku bunga rendah di Asia Timur seperti Bank Sentral China yang juga menurunkan suku bunga. Tentu ini jadi 'benchmark' buat BI biar kebijakan lebih solid untuk dorong pertumbuhan," ujarnya.

    Arif juga meyakini dampak dari omnibus law akan mengalirkan investasi asing ke dalam negeri. Dia meyakini target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun ini dapat tercapai.

    Menyikapi realisasi pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 5,02 persen, Arif mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif baik, jika dibandingkan dengan negara-negara G20 lainnya.

    Dia membandingkan dengan Cina misalnya, yang diprediksi pada awal 2019 akan tumbuh 6,9 persen, nyatanya hanya mampu tumbuh 6,1 persen.

    "Turki juga memasuki keadaan yang sulit. Secara keseluruhan perekonomian 5,02 relatif baik," kata Arief.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.