BI Diprediksi Menahan Suku Bunga Acuan Tetap di 5 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi atau logo Bank Indonesia (BI). TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi atau logo Bank Indonesia (BI). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah memperkirakan Bank Indonesia masih akan menahan besaran suku bunga pada bulan ini. Saat ini, suku bunga acuan BI atau BI 7 Day Repo Rate berada di angka 5 persen.

    "BI sebaiknya memberi waktu kepada perbankan untuk merespons terlebih dahulu penurunan suku bunga acuan yang sebelumnya," kata Piter saat dihubungi, Kamis, 23 Januari 2020. Dia sendiri melihat, sampai saat ini penurunan suku bunga kredit masih sangat lambat.

    Menurut Piter, Bank Indonesia masih punya ruang untuk melanjutkan penurunan suku bunga. Sebab, nilai tukar rupiah masih dalam tren penguatan sementara tingkat inflasi juga sangat rendah.

    Senada, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta juga memprediksi BI akan menahan suku bunga acuan. "Prediksi saya 5 persen," ujar dia.

    Hari ini Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Anggota Dewan Gubernur BI mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2020 pukul 14.00.

    Bulan lalu, Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau (BI7DDR) sebesar 5 persen. Selain itu, tingkat suku bunga deposit facility dan lending facility juga tetap dipertahankan masing-masing pada level 4,25 persen dan 5,75 persen.

    "Karena itu, ke depan kebijakan BI akan tetap akomodatif, dan konsisten sejalan dengan perkiraan inflasi yang masih terkendali. Kebijakan ini juga diambil guna mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat mengelar konferensi pers di Komplek Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis 19 Desember 2019 lalu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.