BPS: Nilai Impor Terbanyak Sepanjang 2019 Berasal dari Cina

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto berbicara kepada wartawan, sesuai pemaparan Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018, di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto berbicara kepada wartawan, sesuai pemaparan Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018, di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepanjang tahun 2019 tercatat Cina sebagai negara asal barang impor terbesar ke Indonesia. Pada Januari hingga Desember tahun lalu, tercatat nilai impor dari Cina ke Indonesia sebesar US$ 44,58 miliar, atau 29,95 persen dari nilai total impor.

    "Cina memasok barang impor terbesar ke Indonesia sepanjang tahun 2019," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020.

    Setelah Cina, Jepang menjadi negara kedua terbesar pemasok barang impor ke Indonesia dengan nilai US$ 15,59 miliar atau 10,47 persen. Selanjutnya Thailand dengan nilai impor US$ 9,41 miliar atau 6,32 persen.

    "Sedangkan, impor nonmigas dari ASEAN US$ 29.291 atau 19,68 persen. Sementara dari Uni Eropa US$ 12.344,5 atau 8,29 persen," ujar Suhariyanto.

    Adapun nilai impor kumulatif Januari - Desember 2019 adalah US$ 170,72 miliar atau turun 9,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Penurunan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing US$ 7,98 miliar atau 26,73 persen dan US$ 10 miliar atau 6,30 persen," kata Suhariyanto.

    Penurunan impor migas ini disebabkan oleh turunnya seluruh impor komponen migas, yaitu minyak mentah US$ 3,45 miliar atau 37,73 persen, hasil minyak US$ 3,96 miliar atau 22,5 persen, dan gas US$ 556,9 juta atau 18,17 persen.

    Selama setahun terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada April 2019 dengan nilai mencapai US$ 2,235 miliar dan terendah terjadi di Maret 2019, yaitu US$ 1,5 miliar. Sementara itu, nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli 2019, yaitu US$ 13,7 miliar dan terendah di Juni 2019 dengan nilai US$ 9,7 miliar.

    Volume impor Januari–Desember 2019 juga mengalami penurunan 5,31 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. "Kondisi ini dipicu oleh turunnya volume impor migas 16,80 persen (8.267,6 ribu ton) dan nonmigas 0,69 persen (849,7 ribu ton)," ujar Suhariyanto.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.