BPS: Inflasi Desember 2019 Capai 0,34 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat angka inflasi sepanjang Desember 2019 mencapai 0,34 persen. Sedangkan inflasi dari tahun ke tahun atau year on year mencapai 2,72 persen.

    "Dengan melihat angka inflasi ini, lebih rendah target inflasi tahun 2019," kata Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Kamis, 2 Januari 2020.

    Secara bulanan, inflasi Desember ini naik dibandingkan November yang sebesar 0,14 persen. Adapun data inflasi Desember itu tercatat pada 82 kota, di mana 72 kota mengalami inflasi dan 10 kota deflasi.

    Inflasi tertinggi terjadi di Batam sebesar 1,28 persen dan terendah inflasi terjadi di Watampone 0,01 persen. Sedangkan untuk deflasi tertinggi terjadi Manado sebesar 1,88 persen dan deflasi terendah terjadi di Bukittinggi dan Singkawang sebesar 0,01 persen. Adapun inflasi tinggi Batam dikarenakan tarif angkutan udara.

    Adapun kata dia, angka inflasi Desember naik naik lagi karena adanya perayaan hari Natal dan tahun baru, serta masuk masa liburan. Adapun penyebab inflasi Desember yaitu terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. "Inflasi tertinggi terjadi pada bahan makanan, lalu transportasi," ujarnya.

    Pada bahan makanan Desember 2019 mengalami inflasi 0,78 persen dan memiliki andilnya ke inflasi Desember sebesar 0,16 persen. "Komoditas dominan andil inflasi bahan makanan telur ayam ras andilnya sebesar 0,08 persen bawang merah andil 0,07 persen ikan segar 0,02 persen dan beberapa sayuran seperti beras, bayam kacang panjang dan sebagainya 0,01 persen masing-masing," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.