RI Butuh Rp 1.000 Triliun Kejar Energi Terbarukan di 2025

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat salah satu instalasi dalam pameran Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-7 di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019. Acara yang bertema

    Pengunjung melihat salah satu instalasi dalam pameran Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-7 di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019. Acara yang bertema "Making Geothermal the Energy of Today" bertujuan untuk mempromosikan energi terbarukan khususnya energi panas bumi. TEMPO/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa mengatakan secara umum, total investasi energi terbarukan masih sangat kecil untuk mencapai target bauran energi dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). "Dalam RUEN di tahun 2025 (energi terbarukan) diperkirakan memerlukan investasi US$ 70 miliar hingga US$ 90 miliar (sekitar Rp 1.000 triliun)," kata Fabby di Soehana Hall The Energy Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019.

    Dia mengatakan tambahan kapasitas terpasang energi terbarukan sebesar 385 MW di tahun ini tidak berdampak signifikan terhadap kemajuan pembangunan energi terbarukan untuk mengejar pencapaian target kapasitas 45 GW di tahun 2025 sesuai target RUEN.

    Untuk itu, kata dia, masih sangat dibutuhkan komitmen politik pemerintah yang dituangkan dalam kebijakan dan regulasi yang progresif dan perbaikan iklim investasi. Sehingga hal itu mengakselerasi pembangunan energi bersih di Indonesia dan bertransisi menuju sistem energi yang lebih bersih, kompetitif, dan handal.

    Setahun yang lalu, menurut Fabby, IESR telah memperkirakan prospek energi terbarukan yang stagnan di tahun 2019 dalam laporan Indonesia Clean Energy Outlook (ICEO) kedua. Dua indikasi yang disampaikan dalam laporan tersebut yaitu kondisi politik yang dinamis selama pemilihan umum serta kebijakan dan peraturan yang tidak kondusif.

    "Setidaknya masih relevan untuk dijadikan basis penilaian kemajuan pembangunan energi bersih di tahun ini," kata dia.

    Secara lebih rinci, kata dia, laporan ICEO tahun ketiga yang diluncurkan hari ini menyoroti dua faktor utama yang masih menjadi penghambat percepatan pengembangan energi terbarukan di tanah air.

    Faktor pertama adalah bankability dari Power Purchase Agreements (PPAS) yang diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No. 10 dan No. 50 Tahun 2017 yang membuat 27 dari 75 PPA proyek ET masih berjuang untuk mencapai tahap financial close (FC), bahkan 5 PPA sudah diterminasi pada Oktober 2019 lalu.

    Selanjutnya, skema insentif bagi proyek energi terbarukan yang tidak kompetitif serta situasi politik dan masa transisi pemerintahan yang baru. Hal itu mengakibatkan capaian target investasi energi terbarukan yang rendah di tahun ini atau US$ 1,17 dari 1,8 juta atau baru mencapai 65 persen per September 2019 lalu.

    Sedangkan kontribusi proyek energi panas bumi sebesar US$ 0,52 juta menjadi andalan pemerintah dari total capaian investasi tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.