Mitos Atau Fakta, Trading Saham IPO Bikin Lebih Cuan Berlipat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ruang gerak saham yang baru IPO (Initial Public Offering) sangat lebar, tercermin dari peluang naik-turunnya harga yang fantastis. Karena ini, saham-saham pendatang baru di Bursa Efek Indonesia dianggap lebih cocok untuk short-trading ketimbang investasi. 

    Dari data yang dihimpun Bisnis, per akhir pekan lalu saham PT Gaya Abadi Sempurna Tbk. dengan kode SLIS meroket hampir 4.000 persen.

    Sejak dicatatkan pada bulan lalu, SLIS pun telah terkena suspensi dari BEI sebanyak 3 kali seiring dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

    Tak hanya SLIS, beberapa saham IPO yang sempat disuspensi oleh bursa a.l. CLAY, KJEN, POLU, HRME, dan ENVY.

    Di sisi lain, ada pula saham yang tak seberuntung itu. Misalnya saham PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA) justru terpuruk -65,33 persen sejak diperdagangkan pada Mei silan.

    Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai kinerja saham-saham yang baru tercatat belum bisa dikatakan murni mencerminkan performa fundamentalnya.

    “Siklusnya saham-saham IPO itu umumnya seperti itu. Ada saham yang kenaikannya di luar kebiasaan, apalagi kalau emitennya bisa meyakinkan investor terhadap prospek ke depannya,” jelas Reza kepada Bisnis, Senin 25 November 2019.

    Berkaca kepada SLIS, lanjut Reza, produsen kendaraan listrik ini menargetkan penjualan pada 2019 bisa mencapai Rp408 miliar atau naik sekitar 38,5 persen yoy dari posisi Rp294,68 miliar. Hal ini pun membuat investor menjadi terlalu optimistis dengan ekspektasi kinerja meningkat tajam.

    Namun demikian, perlu pula dilihat realitas yang ada di depan misalnya munculnya kompetitor terhadap bisnis perseroan.

    Oleh karena fundamental dari emiten anyar bisa dikatakan belum terlalu dilirik pelaku pasar, Reza pun merekomendasikan saham-saham ini untuk short-trading.

    Sementara untuk investasi, saham-saham yang telah memperlihatkan pola pergerakan kinerja keuangan maupun kinerja saham lebih direkomendasikan.

    “Saya sih lebih rekomendasi untuk short—trading, apalagi waktu pre-IPO terjadi oversubscribe. Kalau oversubscribe-nya tinggi bahkan sampai dobel digit, itu berarti banyak investor yang masuk. Dari situ sudah bisa ada gambaran nanti saat listing saham ini akan naik signifikan atau tidak,” ujar Reza.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.