Porsi Ekspor Impor Ekonomi RI Masih Kecil, Ini Plus Minusnya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Indonesia mendapat keuntungan dari kecilnya porsi ekspor impor dalam komponen perekonomian Tanah Air. Keuntungan yang diperoleh antara lain Indonesia tidak begitu terpengaruh kondisi perekonomian global.

    "Tentu saja meski ada keuntungan tapi kita anggap itu bukan sesuatu yang pantas dipertahankan," ujar Darmin di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019. Sebagai negara dengan penduduk yang besar, ia mengatakan perekonomian Tanah Air masih dominan dibentuk oleh faktor konsumsi domestik.

    Darmin mengatakan negara yang porsi perdagangan internasionalnya besar dalam perekonomian sudah banyak yang terpukul akibat lesunya perekonomian global. Belakangan, ekonomi global disebut menuju keseimbangan baru yang belum benar-benar terbentuk. Di dalam prosesnya, ada banyak penyesuaian dari berbagai kekuatan ekonomi dan politik global.

    Dinamika perekonomian global pun terjadi, misalnya dengan sentimen perang dagang antara Amerika Serikat - Cina yang tak kunjung usai, persoalan geopolitik, hingga anjloknya harga komoditas. Sejumlah negara besar pun mencoba menjawab kondisi tersebut dengan melakukan pelonggaran moneter, yang diikuti negara-negara berkembang.

    Melesunya kondisi global, kata Darmin, belakangan memukul negara yang perekonomiannya mengandalkan perdagangan internasional, misalnya Singapura hingga Cina. Singapura sudah mendekati zona resesi, meski pada triwulan III tumbuh 0,1 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Adapun Cina pertumbuhan ekonominya melambat dari kisaran 8 persen ke sekitar 6 persen.

    Dalam kondisi seperti itu, Darmin mengatakan Indonesia bertahan di pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. "Itu keuntungan dlam situasi eko global lesu, kita tidak sebanyak negara lain terpengaruh," ujar dia. Hanya saja, ketika ekonomi pulih, maka negara yang mengandalkan ekspor dalam Produk Domestik Brutonya pertumbuhan ekonominya akan melejit dan melampaui Indonesia. "Jadi walau ada keuntungannya, kita merasa itu tidak pantas dipertahankan."

    Karena itu lah, Darmin mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam satu periode ke belakang terus menggenjot infrastruktur hingga mengeluarkan kebijakan guna menggenjot ekspor Tanah Air. Sehingga, Indonesia tidak melulu berorientasi kepada pasar domestik.

    "Kenapa? Begitu perekonomian dunia tumbuh tinggi, kita tidak bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu dan kita akan tertinggal pertumbuhannya dibandingkan negara lain yang berorientasi ekspor," ujar Darmin.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?