Kala Menperin Airlangga Mengkritik Industri Indonesia Lewat Buku

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan dalam peluncuran bukunya yang berjudul 'Merajut Asa: Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan' di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan dalam peluncuran bukunya yang berjudul 'Merajut Asa: Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan' di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang akhir masa jabatan sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Jokowi Jilid I, Airlangga Hartarto meluncurkan bukunya yang berjudul 'Merajut Asa: Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan'. Salah satu isi buku ini mengkritik capaian pemerintah Indonesia dalam bidang industri.

    Dalam sebuah bab, Airlangga membahas perjalanan industrialisasi yang sangat lamban. Pada bagian ini, Ketua Umum Partai Golkar tersebut memaparkan pandangannya tentang industrialisasi di masa Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi.

    "Para pemimpin Indonesia sejak awal sebenarnya telah menyadari pentingnya pembangunan sektor industri," tulis Airlangga dalam buku tersebut.

    Di era Reformasi, Airlangga mengatakan Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap industri primer. Namun, kondisi justru memberikan dampak yang kurang baik bagi Indonesia.

    Ketergantungan Indonesia menyebabkan perekonomian menjadi rentan. Sebab, menurut dia, kondisi perekonomian negara akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga-harga komoditas di pasar internasional.

    Airlangga mengatakan buku ini ia tulis sebelum menjadi Menteri Perindustrian, yakni pada 2016. "Buku ini saya tulis sebelum 2016. Kalau bukunya agak galak-galak sedikit, itu karena saya masih di luar (pemerintahan)," ujar Airlangga di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

    Menurut Airlangga, bukunya dirancang dengan premis sumber daya manusia. "Kaya sumber daya alam, miskin sumber daya alam, yang paling penting adalah sumber daya manusia," katanya.

    Airlangga menyataka,n buku ini adalah buah pemahamanannya terhadap kondisi ekonomi industri selama beberapa tahun ke belakang. Dia mengatakan buku ini ditulis sebagai sumbang saran dan pemikiran terhadap langkah yang perlu dilakukan untuk mewujudkan Indonesia sejahtera dan berkelanjutan.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.