Tanggapi Isu Buaya Ibu Kota Baru, Luhut: Asal Jangan Buaya Darat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir melakukan konvoi kendaraan bermotor listrik di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir melakukan konvoi kendaraan bermotor listrik di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan melontarkan gurauan saat menanggapi isu bahwa masih banyak buaya liar berkeliaran di calon ibu kota baru, yakni Penajem Paser Utara, Kalimantan Timur. Luhut mengatakan fenomena itu lumrah di lingkungan yang masih tertutup lahan hijau. 

    “Ya enggak apa-apa lah, asal jangan buaya darat saja,” ujar Luhut berseloroh, saat dijumpai di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 9 September 2019.
     
    Enggan menanggapi lebih lanjut, Luhut mengatakan persoalan buaya tak perlu dipermasalahkan lebih jauh. Meski begitu, ia menyebut pro-kontra menyambut pembangunan ibu kota baru memang lazim terjadi. Pernyataan itu ia sampaikan pula dalam rapat anggaran bersama DPR. 
     
    “Pro-kontra biasa. Kalau enggak mau ada pro-kontra masuk surga aja,” kata Luhut.
     
    Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya telah mengumumkan lokasi ideal ibu kota baru. Menurut Jokowi, ibu kota baru akan dibangun di antara Penajem Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Keduanya berada di Kalimantan Timur. 
     
    Luhut memastikan pembangunan ibu kota baru telah dikaji secara matang oleh Bappenas. Adapun pembangunan ibu kota tahap pertama bakal ditargetkan kelar pada 2024. Berdasarkan rancangan Bappenas, pemerintah membutuhkan investasi senilai Rp 466 triliun untuk pembangunan ibu kota baru. 
     
    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.