Survei Isentia Sebut 34,2 Persen Netizen Setuju Ibu Kota Pindah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin 26 Agustus 2019. Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin 26 Agustus 2019. Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta -Isentia, perusahaan analisa dan monitoring media berbasis di Australia menyebutkan sebesar 34,2% netizen setuju jika ibu kota negara Indonesia dipindahkan. Insights Manager Isentia, Rendy Ezra mengatakan, kepastian pemindahan ibukota yang diumumkan Presiden RI Joko Widodo menjadi perbincangan netizen di media sosial.

    "Perusahaan media intelligence Isentia menangkap perbincangan terkait kepastian ibukota ini sebanyak 31.261 buzz pada 1 Agustus hingga 31 Agustus 2019," kata Rendy dari rilis diterima Bisnis, Jumat, 6 September 2019.

    Menurutnya, sebesar 16,5% netizen tidak setuju jika ibukota dipindahkan karena merasa kurang paham terhadap konsep, maksud maupun tujuan dari pemindahan Ibu kota.

    Alasan pemindahan ibu kota menjadi topik terkait yang paling sering dibicarakan sebesar 89,6% dari total buzz, disusul dengan pembagian lahan 5,3% dari total buzz.

    Selain itu, dampak positif dari pemindahan ibu kota yang mendapat perhatian sebesar 3,4%, serta Konsep pemindahan 1,7% dari keseluruhan pembicaraan. "Dengan pemindahan ini, masyarakat sebenarnya berharap agar adanya pemerataan dari segala aspek agar tidak terjadinya ketimpangan di dalam masyarakat," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.