Ekonom Ingatkan Ancaman Resesi Global di Depan Mata

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Transaksi di ATM BCA Lippo Karawaci Tangerang, Banten, Minggu (4/10). Pertumbuhan kredit perbankan pada 2009 diperkirakan anjlok akibat dampak dari resesi global yang bakal makin terasa tahun depan. TEMPO/Tri Handiyatno

    Transaksi di ATM BCA Lippo Karawaci Tangerang, Banten, Minggu (4/10). Pertumbuhan kredit perbankan pada 2009 diperkirakan anjlok akibat dampak dari resesi global yang bakal makin terasa tahun depan. TEMPO/Tri Handiyatno

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Fadhil Hasan, mengatakan resesi ekonomi global saat ini sudah semakin memasuki fase ancaman. Salah satu tanda-tandanya tampak dari ekonomi Amerika Serikat yang menguasai 24 persen pangsa ekonomi dunia.

    “Ada fenomena menarik yakni inverted yield, kata Fadhil dalam diskusi Indef di Jakarta, Ahad 8 September 2019.

    Inverted yield atau imbal hasil yang terbalik merupakan situasi di mana yield obligasi atau surat utang pemerintah Amerika dengan tenor jangka pendek lebih tinggi ketimbangkan imbal hasil pada obligasi jangka panjang. Situasi ini terjadi saat investor melihat prospek ekonomi jangka panjang tidak begitu menarik, sehingga obligasi jangka, sehingga imbal hasilnya menjadi lebih rendah.

    Dari data yang ada, kata Fadhil, imbal hasil dari obligasi Amerika tenor 10 tahun jauh lebih rendah dari obligasi bertenor 3 bulan. Menurut dia, fenomena ini juga terjadi terakhir kali pada Agustus 2007. tiga bulan kemudian atau pada Desember 2007 sampai Mei 2008 ekonomi Amerika jatuh ke jurang resesi.

    Ancaman resesi global ini sebelumnya juga menjadi perhatian firma konsultan global, McKinsey & Co. Resesi global dikhawatirkan bakal memukul kondisi perekonomian Asia hingga terjadi krisis seperti yang pernah berlangsung pada 1997.

    Laporan McKinsey & Co menyatakan ada tiga kondisi fundamental yang mengalami tekanan di negara-negara Asia. Pertama, di sektor riil, perusahaan-perusahaan di kawasan ini dalam kondisi yang sulit untuk memenuhi kewajiban utang mereka. Di Australia dan Korea Selatan, utang-utang ini telah menumpuk ke level yang cukup tinggi. 

    Kedua, sistem keuangan di Asia menunjukkan kerentanan, terutama di negara-negara berkembang. Mereka sangat bergantung kepada perbankan dan lembaga-lembaga shadow banking untuk memperoleh pinjaman. Ketiga, arus modal yang terus masuk ke kawasan Asia telah menciptakan porsi yang lebih besar pada moda dari luar.

    Tak hanya inverted yield, ekspansi dari perekonomian Amerika juga dinilai akan segera berakhir. Biasanya, kata Fadhil, ekspansi hanya berlangsung selama 7 hingga 8 tahunan, yang sering disebut siklus bisnis. Sementara, ekspansi saat ini sudah mencapai 10 tahun, dari 2009 sejak resesi hingga 2019. “Jadi besar kemungkinan ekspansi ini akan segera berakhir,” kata dia.

    Bukan hanya Fadhil yang khawatir. Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee,  juga menyampaikan kekhawatiran pasar mengenai inverted yield di Amerika ini. Saat ini, kata dia, spread yield obligasi US  bertenor 10 tahun dengan yield US Treasury bertenor 2 tahun menjauh 5 bps yakni 1,47 persen dengan 1,52 persen. Posisi tersebut merupakan terendah sejak 2007.

    “Sejarah mencatat awal resesi Amerika selalu ditandai dengan terjadinya kurva terbalik. Ancaman perlambatan ekonomi global dan resesi di AS tentu mempengaruhi pergerakan harga saham,” kata Hans.

    FAJAR PEBRIANTO | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.