Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, BI: karena Sektor Manufaktur Lambat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajaran Deputi BI Dody Budi Waluyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Jajaran Deputi BI Dody Budi Waluyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menilai sektor manufaktur yang tumbuh lambat menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen saja.

    "Tidak salah kalau ekonomi kita akan tumbuh di kisaran hanya sekitar 5 persen untuk di tahun 2019 ini. Jadi ini tantangan yang besar bagaimana kita bisa dorong sektor manufaktur terus tumbuh," kata Dody di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu, 4 September 2019.

    Dody mengungkapkan, selama triwulan II 2019, sektor manufaktur hanya tumbuh di kisaran 3,2 persen hingga 3,3 persen. Pertumbuhan itu, kata Dody, hanya separuh dari pertumbuhan normal sektor manufaktur yang biasanya di kisaran 6-7 persen.

    Badan Pusat Statistik atau BPS juga mencatat realisasi pertumbuhan di kuartal II-2019 melambat dibandingkan kuartal II-2018 yang tumbuh 4,36 persen. Pada periode yang sama pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,05 persen, melambat dari kuartal II-2018 yang sebesar 5,27 persen year on year.

    Karena hal itu, menurut Dody, perlu upaya untuk terus mendorong sektor manufaktur agar berefek pada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Menurut dia, ada beberapa masalah yang harus ditangani untuk mendorong manufaktur. Pertama, kata dia, soal meningkatkan rantai nilai atau value chain dalam negeri. 

    Dody melihat banyak industri unggulan Indonesia yang belum saling terhubung dengan industri lainnya. "Seperti industri otomotif, yang produksinya  cenderung dimanfaatkan untuk ekspor ke luar negeri, dibandingkan untuk dukung sektor industri dalam negeri," kata dia.

    Dody menegaskan BI selalu berupaya memberi stimulus ekonomi melalui kebijakan moneter. Dia mengatakan sepanjang stabilitas terjaga di tengah tekanan eksternal global masih berlangsung, BI melihat ruang untuk penurunan suku bunga acuan.

    "Kita telah turunkan sebanyak dua kali sebesar 50 bps menjadi 5,5 persen di dua bulan terakhir ini. Harapannya ini disambut pelaku ekonomi, disambut kegiatan ekonomi, untuk kembali tingkatkan kegiatan usahanya," kata Dody.

    Dia melihat permasalahan saat ini terjadi dari sisi permintaan yang tidak muncul secara besar. "Ini harapan kami tentu dengan penurunan subung semakin memberikan amunisi untuk sektor ekonomi terus tumbuh, khususnya sektor manufaktur," ujar Dody.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.