Industri Elektronik Indonesia Lesu 2 Tahun Terakhir karena...

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama  Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran "Making Indonesia 4.0" di JCC, Senayan, Jakarta, 4 April 2018. Adapun kelima sektor tersebut, yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Otomotif, Industri Elektronik, Industri Kimia, serta Industri Tekstil. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian mengakui pertumbuhan industri elektronika tak terlampau moncer dalam rentang beberapa terakhir. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika atau ILMATE Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan pada 2018 hingga 2019, pertumbuhan industri komputer, barang elektronik, dan optik bahkan mencapai minus. 
     
    “Pada 2018, pertumbuhan industri elektonik kita -12,10 persen. Sedangkan pada 2019 -3,86 persen,” ujar Harjanto saat ditemui di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatikan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Agustus 2019. 
     
    Kontribusi industri elektronik terhadap pendapatan domestik bruto nasional pun kurang memuaskan ketimbang industri lainnya. Sektor ini hanya menyumbang 0,46 persen terhadap PDB pada triwulan I 2019. Bahkan, berdasarkan data yang dipaparkan, elektronik tergolong penyumbang PDB terendah kedua setelah industri mesin dan perlengkapan yang tidak termasuk dalam lainnya. 
     
    Sedangkan menurut data ekspor dan impor, sektor elektronik mengalami defisit neraca perdagangan sejak 2015 hingga triwulan I 2019. Pada 2015, Kementerian Perindustrian mencatat industri barang komputer, elektronik, dan optik mengalami defisit neraca perdagangan mencapai 6,4 persen. Angka ini menajam pada 2017. Kala itu defisit perdagangan mencapai 7,2 persen. 
     
    Sedangkan pada triwulan I 2018, neraca defisit neraca perdagangan masih terjadi, yakni sebesar 2,81 persen secara year on year dan triwulan I 2019 ialah 2,43 persen. Meski menurun, Harjanto mengakui tren industri dalam sektor ini masih negatif. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.