Tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung Tak Diintervensi Pemerintah

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melintas di dalam Tunnel Walini saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa, 14 Mei 2019. Tunnel Walini memiliki panjang 608 meter.  ANTARA/M Agung Rajasa

    Pekerja melintas di dalam Tunnel Walini saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa, 14 Mei 2019. Tunnel Walini memiliki panjang 608 meter. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski baru akan beroperasi pada 2012, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) telah mengumumkan bahwa tarif Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan dibanderol mulai US$ 16 atau sekitar Rp 229.536 per orang. Penetapan tarif itu berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan perusahaan.

    Baca: Kereta Cepat Jakarta Bandung Ditargetkan Beroperasi 2021

    Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri, mengatakan bahwa pemerintah tidak akan mengintervensi tarif kereta cepat usulan KCIC itu. Sebab, sumber pembiayaan proyek infrastruktur tersebut tidak menggunakan anggaran dari pemerintah. Semua pendanaan di luar Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN), sehingga tidak ada pemberian subsidi untuk pembelian tiket nantinya.

    "Tidak ada subsidi, itu investasi swasta penuh, pemerintah tidak ada di situ, lahan pun punya mereka," kata Zulfikri seusai rapat dengan Komisi V DPR-RI di Jakarta Pusat, 18 Juni 2019.

    Zulfikri menambahkan, dalam perjanjian pengelolaan, KCIC diberi hak kelola Kereta Cepat Jakarta Bandung selama 50 tahun untuk mengembalikan investasi yang digelontorkan. Adapun hak konsesi dihitung sejak kereta cepat itu mulai beroperasi. "Terhitung mulai beroperasi dihitungnya, 50 tahun itu setelah masa konsesi akan diserahkan ke kita. Yang penting beroperasi dulu," kata dia.

    Adapun studi kelayakan KCIC dalam menentukan tarif itu, kata Zulfikri, juga dibahas bersama pemerintah. Namun dalam perjanjian, tarif kereta cepat bisa dievaluasi secara periodik, setelah beroperasi resmi pada 2021.

    Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China Chandra Dwiputra mengatakan, penetapan tarif akan ditentukan kemudian setelah adanya kajian komprehensif ketika kereta cepat Jakarta - Bandung segera beroperasi. Besaran tarif akan memperhatikan berbagai aspek keekonomian, daya beli masyarakat di tahun 2021 dan persetujuan dari regulator.

    Baca: Dengan Kereta Cepat, Jakarta - Bandung Bisa Ditempuh 46 Menit

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung direncanakan menggunakan teknologi terkini, yakni kereta cepat generasi teranyar CR400AF. Kereta tipe tersebut merupakan hasil pengembangan dari tipe CRH380A oleh CRRC Qingdao Sifang.

    Gerbong kereta cepat  nantinya akan selebar 3,36 meter dan tinggi 4,05 meter dengan panjang kepala kereta 27,2 meter dan intermediate kereta 25 meter. Model anyar itu didesain untuk beroperasi di empat iklim, salah satunya di kondisi tropis dengan kondisi suhu dan kelembapan tinggi seperti di Indonesia.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.