Sebab Penumpang Pesawat di Bandara Balikpapan Turun 36,4 Persen

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kereta dorong untuk anak-anak dibawah umur, disediakan di Ruang tunggu Bandara Internasional Semppingan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat 18 Desember 2015. Bandara yang memiliki daya tampung 10 juta penumpang setiap tahunnya ini Memiliki konsep eco-airpor. TEMPO/Iqbal Lubis

    Sejumlah kereta dorong untuk anak-anak dibawah umur, disediakan di Ruang tunggu Bandara Internasional Semppingan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat 18 Desember 2015. Bandara yang memiliki daya tampung 10 juta penumpang setiap tahunnya ini Memiliki konsep eco-airpor. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - General Manajer PT Angkasa Pura I Persero untuk Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan Farid Indra Nugraha mengatakan jumlah penumpang pesawat di bandaranya merosot tajam saat masa mudik Lebaran 2019. Berdasarkan rekapitulasi posko mudik Lebaran pada H-7 hingga H+2, pergerakan penumpang menurun hingga 36,4 persen ketimbang tahun lalu.

    BACA: Penumpang Pesawat Merosot Diperkirakan karena Beda Masa Libur

    "Kalau tahun lalu 199.992 penumpang, tahun ini 141.267 penumpang," kata Farid dalam pemaparannya di Bandara Balikpapan, Sabtu, 8 Juni 2019. 

    Tak hanya pergerakan penumpang, jumlah pesawat yang melayani penerbangan dari bandara Balikpapan semasa periode angkut Lebaran juga merosot. Data rekapitulasi menunjukkan, pada Lebaran 2019, jumlah realisasi penerbangan di Balikpapan hanya tercatat 1.475. 

    BACA: 40 Persen Penumpang Bandara Balikpapan Pindah ke Samarinda

    Sementara itu pada 2018, pergerakan pesawat pada periode yang sama mencapai 1.737 penerbangan. Dari data tersebut, tampak adanya penurunan jumlah pesawat beroperasi saat Lebaran sebesar 22,4 persen. 

    Farid menengarai, kondisi penurunan penumpang dan pesawat di bandara ini dilatari sejumlah faktor. "Jumlah penumpang menurun karena ada kenaikan harga tiket pesawat dan pemberlakuan bagasi berbayar," ucapnya. 

    Tak hanya dua faktor tersebut, situasi demikian, juga merupakan imbas dari adanya pergeseran penumpang ke moda transportasi lain, yakni kapal laut. Selain itu, menurut Farid, sekitar 21 persen penumpang berpindah keberangkatan dari Bandara Sams Balikpapan ke Bandara ATP Pranoto Samarinda. 

    Kendati begitu, masih terjadi pertumbuhan jumlah penumpang pada saat Lebaran ketimbang hari-hari biasa. "Ini ditunjukkan dengan adanya penambahan penerbangan atau extra flight ke tiga rute, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Surabaya," ucapnya. 

    Hingga hari ketiga Lebaran, jumlah realisasi extra flight tercatat sebanyak 44 penerbangan. Sedangkan load factor atau tingkat keterisian untuk tiga rute gemuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya mencapai di atas 90 persen. 

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti mengatakan penurunan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat juga terjadi secara nasional. Berdasarkan catatannya, rata-rata penurunan penumpang di 36 bandara posko pemantauan berkisar 20 hingga 30 persen. 

    "Namun, tetap ada tren positif seperti bandara di Sorong itu jumlah penumpangnya meningkat 20 persen pada hari pertama (mudik atau H-7)," ucapnya. 

    Polana menenggarai, penurunan penumpang pesawat di periode Lebaran tahun ini terjadi karena momentum hari raya tak bersamaan dengan libur sekolah. Maka itu, ia optimistis kala liburan sekolah nanti, jumlah penumpang pesawat masih akan terus tumbuh. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.