Defisit Neraca Perdagangan Diprediksi Berlanjut Triwulan II 2019

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dengan adanya kemudahan yang diberikan pemerintah, diharapkan defisit neraca perdagangan bisa diatasi dengan menggenjot ekspor. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dengan adanya kemudahan yang diberikan pemerintah, diharapkan defisit neraca perdagangan bisa diatasi dengan menggenjot ekspor. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance alias Indef Bhima Yudhistira memprediksi defisit neraca perdagangan terus berlanjut di triwulan II 2019.

    Baca juga: Defisit Perdagangan, Darmin Nasution Dorong Investasi 2 Industri

    "Betul, apalagi Ramadan sampai Lebaran di Juni kebutuhan impor tinggi, jadi akan konsisten melanjutkan defisit," ujar dia Kamis, 17 Mei 2019.

    Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit sebesar US$ 2,5 miliar. Defisit ini berasal dari nilai impor yang mencapai US$ 15,09 miliar, sementara capaian ekspor hanya sebesar US$ 12,59 miliar.

    Bhima mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Pertama, kata Bhima, adalah perlambatan ekonomi global. Hal tersebut berpengaruh pada permintaan bahan baku dan barang setengah jadi dari Indonesia.

    Dalam rantai pasok global, posisi Indonesia juga terkena imbas perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Akibat ketegangan itu, ekspor ke AS dan Cina pada April masing-masing turun 5 persen dan 10 persen secara tahunan.

    "Trade war juga membuat harga komoditas unggulan masih rendah seperti harga CPO, karet dan batubara sehingga berdampak signifikan terhadap turunnya kinerja ekspor," kata dia.

    Di samping itu, Bhima mengatakan ekspor migas yang menurun 42 persen dibanding periode sama tahun lalu ini disebabkan rendahnya harga minyak mentah, penurunan permintaan dan kebijakan pemerintah untuk alokasi pasokan domestik sebagai persiapan BBM menjelang arus mudik lebaran. Sementara, lifting minyak dalam negeri terus merosot dari tahun ke tahun. "Untuk penuhi kebutuhan dalam negeri saja impor BBM terus banjir."

    Pada sisi impor, Bhima mengatakan negara yang terlibat perang dagang banyak mengalihkan kelebihan produksinya ke Indonesia. Pernyataan itu didukung data peningkatan impor barang konsumsi sepanjang April sebesar 24 persen dibanding bulan sebelumnya. Tercatat, impor spesifik asal Cina tumbuh 22 persen secara tahunan. Ia berujar Indonesia juga semakin kepada barang impor untuk memenuhi kebutuhan, khususnya pada Ramadan hingga Lebaran.

    "Pengaruhnya, kinerja net ekspor pada kuartal II diperkirakan masih tumbuh negatif. Ekonomi sepanjang tahun akan terimbas pelemahan net ekspor. Outlook ekonomi 2019 hanya tumbuh 5 persen," kata dia.

    Baca berita Neraca Perdagangan lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.