Kontribusi Pulau Jawa ke Perekonomian Sebesar 59,03 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan I 2019 masih didominasi Pulau Jawa. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan Pulau Jawa memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 59,03 persen.
     
     
    "Pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa pada semester I 2019 sebesar 5,66 persen," kata Suhariyanto di kantornya Jakarta, Senin, 6 Mei 2019.
     
    Daerah yang memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi terbesar kedua adalah Sumatera yang sebesar 21,36 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi Sumatera  sendiri sebesar 4,55 persen.
     
    Kontributor pertumbuhan ekonomi ketiga, kata Suhariyanto, adalah Pulau Kalimantan yang menyumbang PDB sebesar 8,26 persen. Pada kuartal I ini, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Kalimantan sebesar 5,33 persen.
     
    Pulau dengan kontribusi terbesar keempat terhadap PDB adalah Sulawesi, yakni sebesar 6,14 persen. Pulau ini tercatat memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dari pulau-pulau di seluruh Indonesia, yang sebesar 6,51 persen.
     
    Untuk pulau Bali dan Nusa Tenggara Timur, BPS mencatat kontribusi terhadap PDB sebesar 3,02 persen dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,64 persen.
     
    Sementara itu, Pulau Papua berkontribusi 2,19 persen pada PDB. BPS mencatat, pulau yang berada di paling timur Indonesia itu, memiliki pertumbuhan ekonomi minus 10,44 persen pada kuartal I 2019. "Karena dari strukturnya di Papua dipengaruhi sektor pertambangan dan penggalian masih besar sekali di Papua," kata Suhariyanto.
     
     
    Menurut dia, hal itu ke depan perlu digeser. Sebab, semua negara ingin tidak tergantung pada sumber daya alam, karena SDA suatu saat akan habis. "Presiden sangat berharap suatu saat sumber pertumbuhan ekonomi baru itu adalah energi terbarukan, baik itu ekonomi kreatif ataupun pariwisata. Namun, untuk pergeseran butuh waktu lama," Suhariyanto menjelaskan.
     
    HENDARTYO HANGGI
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.