BI Optimistis Relaksasi RIM Bakal Dorong Kredit Tumbuh Agresif

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2018 kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan) disaksikan Anggota DPR Aziz Syamsudin (kiri), dan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin (kanan) saat peluncuran buku tersebut di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. Buku dengan sub judul Sinergi Untuk Ketahanan dan Pertumbuhan itu merupakan laporan, kajian dan pandangan BI terhadap kondisi perekonomian selama 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2018 kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan) disaksikan Anggota DPR Aziz Syamsudin (kiri), dan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin (kanan) saat peluncuran buku tersebut di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. Buku dengan sub judul Sinergi Untuk Ketahanan dan Pertumbuhan itu merupakan laporan, kajian dan pandangan BI terhadap kondisi perekonomian selama 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI optimistis kebijakan relaksasi Rasio Intermediasi Makroprudensial atau RIM bakal mendorong pertumbuhan kredit tahun ini. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Linda Maulidina mengatakan dengan adanya relaksasi itu perbankan bisa menambah jumlah pembiayaan atau kredit yang disalurkan.

    BACA: Pesan Jokowi ke Pedagang saat Blusukan di Pasar Sentral Gorontalo

    "Kami lebih melihat seperti apa sih apetite industri perbankan secara individu untuk salurkan kredit. Di sini seperti dituangkan, dalam Rencana Bisnis Bank atau RBB di kisaran 12 persen kami optimistis bisa dicapai," kata Linda saat melakukan konferensi pers di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin 1 April 2019.

    Sebelumnya, BI telah menerbitkan aturan baru terkait dengan RIM dan PLM. Beleid ini akan mulai berlaku pada 1 Juli 2019 untuk Bank Umum Konvensional (BUK), Bank Umum Syariah (BUS), dan Unit Usaha Syariah (UUS). Adapun penyesuaian itu tertuang dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 21/5/PADG/2019 merupakan perubahan ketiga atas PADG Nomor 20/11/PADG/2018 tanggal 31 Mei 2018. 

    BACA: Membaik, OJK Sebut Kredit Perbankan Tumbuh 11,97 Persen

    Secara umum aturan baru itu, berupa penyesuaian kisaran batas bawah dan batas atas dari target RIM dan target RIM Syariah, dari sebelumnya masing-masing sebesar 80-92 persen menjadi sebesar 84-94 persen dan penyesuaian contoh perhitungan. Perubahan ini merupakan yang ketiga sejak aturan ini diterbitkan.

    Linda mengatakan dengan adanya relaksasi RIM bank bisa menambah penyaluran kreditnya secara tidak langsung lewat instrumen lain seperti membeli surat utang atau corporate bond. Hal ini dikeluarkan karena selama ini bank banyak dinilai telah optimal dalam menyalurkan kredit.

    "Kalau misal bank sudah optimal berikan kredit, dengan relaksasi ini peningkatan pembiayaan bisa bertambah, bisa lewat pembiayaan lain selain kredit langsung," kata Linda.

    Selain itu, aturan itu juga memungkinkan bank menambah pendanaan selain dengan menawarkan suku bunga yang kompetitif untuk menarik dana pihak ketiga atau DPK. Dalam hal ini perbankan bisa melakukan penerbitan surat utang untuk menambah pendanaan.

    Kemudian, Linda menuturkan, kondisi likuiditas saat ini juga masih memadai untuk memacu bank menyalurkan kredit lebih agresif agresif. Dia membantah jika relaksasi ini bakal membuat likuditas perbankan menjadi semakin ketat.

    "Kami lihat likuiditas masih memadai, bukan ketat. Kami ingin bank-bank yang RIM di bawah 80 persen bisa memacu kreditnya setidaknya mencapai RIM di 84 persen,"

    Merujuk data data Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, sepanjang 2018 total pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,88 persen. Adapun hingga Februari 2019, OJK menyebut pertumbuhan kredit perbankan telah mencapai 12,13 persen (yoy). Sedangkan, Bank Indonesia sendiri mematok angka total pertumbuhan kredit di kisaran 10-12 persen tahun ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.