Sempat Anjlok, Freeport Siap Pacu Produksi Mulai 2021

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas (tengah) saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Panitia Kerja (Panja) Freeport di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 27 November 2017. Rapat ini membahas divestasi saham PT Freeport Indonesia dan progres pembangunan smelter. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas (tengah) saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Panitia Kerja (Panja) Freeport di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 27 November 2017. Rapat ini membahas divestasi saham PT Freeport Indonesia dan progres pembangunan smelter. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Freeport Indonesia Clayton Allen Wenas atau Tony Wenas optimistis bahwa produksi perusahaannya mulai 2021 akan naik sampai angka 58 juta ton. "Tahun 2022 sudah 78 juta lagi, dan 2022 ke depannya istilahnya kita gas pol," ujar Tony Wenas saat berkunjung ke kantor Tempo, Kamis, 14 Maret 2019.

    BACA: Kementerian ESDM Selidiki Penyebab Longsor di Freeport

    Tahun ini produksi Freeport hanya sekitar 41 juta ton, atau turun hampir 50 persen dari tahun lalu yang mencapai 78 juta ton. Total produksi pada 2020 diprediksi lebih turun menjadi 38 juta ton.

    Namun, Tony yakin, saat kegiatan bawah tanah sudah semakin meningkat, produksi akan terus meningkat lagi. "Sebenarnya di tambang bawah tanah, produksi sudah mulai meningkat, namun tambang terbukanya yang tadi terdapat 12-14 juta ton produksi itu habis pertengahan tahun ini," kata dia.

    Menurut Tony, Freeport harus tetap melakukan investasi di tambang bawah tanah, karena investasi itu tidak bisa berhenti. Investasi yang dia maksud adalah mengembangkan tambang bawah tanah, di mana Freeport akan membuka akses terus.

    "Membuka akses itu sambil menggali. sambil menggali ore-nya kami buka akses.
    Jadi itu harus terus kami lakukan, karena tidak mungkin berhenti. Tambang bawah tanah ini kalau sekian bulan berhenti dia akan bisa kolaps," ujar Tony.

    Menurut Tony, kalau tambang bawah tanah sudah kolaps, akan susah sekali kalau ditambang kembali. Jadi, kata dia Freeport akan investasi untuk hal itu rata-rata US$ 1 miliar dolar atau Rp 14 triliun per tahun sampai 2038.

    Baca: Disebut Bohong soal Freeport, Sudirman Said: Tuduhan Kaset Rusak

    Sebelumnya Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium Budi Gunadi Sadikin mengumumkan jajaran komisaris dan direksi PT Freeport Indonesia pasca rampungnya divestasi saham perusahaan tambang tersebut. "Direksinya ada empat orang Indonesia dan dua orang non Indonesia," ujar dia di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018.

    Jajaran direksi PT Freeport Indonesia yang anyar antara lain terdiri dari Direktur Utama Clayton Allen Wenas alias Tony Wenas dan Wakil Direktur Utama Orias Petrus Moedak. Di jajaran direktur ada  Jenpino Ngabdi, Achmad Ardianto, Robert Charles Schroeder, dan Mark Jerome Johnson.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.