Pengembang Disarankan Juga Bidik Calon Pembeli Rumah Kedua

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para agen penjual rumah tengah menawarkan rumah tinggal pada pameran Properti di sebuah Mall kawasan Jakarta, 21 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Para agen penjual rumah tengah menawarkan rumah tinggal pada pameran Properti di sebuah Mall kawasan Jakarta, 21 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menilai prospek properti khususnya residensial bakal tetap menarik tahun ini. Ia menyebutkan para pengembang bisa mulai membidik pasar dari konsumen yang sudah memiliki rumah dan ingin beralih ke tempat yang dianggapnya lebih nyaman.

    Baca: 2019, Pengembang Pasang Target Pesimistis Rumah Bersubsidi

    Ike Hamdan mengatakan bahwa saat ini banyak calon pembeli hunian yang ingin meningkatkan kepemilikan huniannya. Salah satunya dengan menjual rumah yang sudah dimiliki saat ini dan beralih ke hunian kedua, atau hunian yang ukurannya lebih besar, strategis, atau lebih mahal.

    “Bagi penjual, ini menunjukkan bahwa permintaan properti residensial tetap tinggi, dengan permintaan tertinggi datang dari pembeli hunian pertama. Penjual disarankan agar lebih fokus pada properti di sunrise area dengan capital gain jangka panjang dan diminati pembeli,” kata Ike, Rabu, 9 Januari 2019.

    Selain itu, menurut Ike, para pencari hunian  ingin menggunakan hunian barunya sebagai tempat usaha atau investasi. “Harga rumah dan apartemen akan naik hingga lebih dari 10 persen dalam lima tahun ke depan, sehingga banyak orang yang mau beli rumah untuk dijadikan aset investasi,” katanya.

    Mayoritas permintaan hunian tahun ini akan hadir dari kalangan menengah dan menengah ke bawah. Namun, permintaan dari kalangan menengah ke atas juga disebut masih menunjukkan peningkatan.s

    “Fleksibilitas dalam pembiayaan akan menjadi daya tarik properti di mata pencari residensial, ada yang memilih pinjaman pembiayaan rumah berjangka waktu 10-15 tahun, hingga yang memilih jangka waktu di atas 15 tahun,” ucap Ike.

    Ke depan, pemerintah diminta agar bisa mendorong lebih banyak masyarakat untuk membeli hunian. Saat ini, Ike menyebut masih banyak pencari hunian yang merasa bahwa pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) masih cukup sulit dan uang muka yang harus dibayarkan masih terlalu tinggi.

    Merespons masalah tersebut, pemerintah kini sudah mengeluarkan kebijakan loan to value (LTV) yang baru yang memungkinkan pembeli rumah pertama bisa mendapatkan keringanan uang muka hingga 0 persen.

    Baca: Rumah Dekat Stasiun Makin Diminati Konsumen

    Bank Indonesia sudah membebaskan maksimum nilai kredit atau LTV rumah pertama kepada bank. Dengan aturan tersebut, perbankan bisa memberikan syarat uang muka KPR hingga serendah 0 persen. Beleid itu sudah berlaku sejak awal Agustus 2018.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.