Tak Bakal Naikkan Tarif Listrik di 2019, ESDM: Bukan Alasan Politis

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi listrik (pixabay.com)

    ilustrasi listrik (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Tenaga Listrik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Andy Noorsaman Sommeng menyebut langkah pemerintah tak bakal menaikkan tarif listrik pada tahun ini bukan langkah politis. 

    BACA: Jonan Sebut Tak Bakal Naikkan Tarif Listrik dan Harga BBM di 2019

    "Enggak ada politis. Semua pemerintahan ada untuk menyenangkan masyarakat," ujar Sommeng di Kantor Kementerian ESDM, Jumat, 4 Januari 2019. Ia berujar pemerintah tak menaikkan tarif listrik agar daya beli masyarakat tetap terjaga. 

    Selain soal daya beli, Sommeng berujar harga listrik yang terjaga itu juga dimaksudkan untuk menarik investor-investor dari luar negeri untuk mendirikan pabrik yang energinya intensif. "Kalau energi diintensifkan, akan lebih murah kan, lebih kompetitif biaya produksinya," ujar dia.

    Imbasnya, produk yang dihasilkan pun nantinya bisa menjadi lebih kompetitif. Dalam jangka panjang, produk yang kompetitif itu nantinya bisa diekspor dan berkontribusi kepada neraca keuangan negara. "Current account kita enggak defisit, masyarakat tenang."

    BACA: 4 Tahun Jokowi, Jonan Janji Tarif Listrik Tak Naik Hingga 2019

    Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyebut pemerintah tidak bakal menaikkan tarif listrik hingga akhir tahun 2019. "Tarif dievaluasi setiap tiga bulan, sampai dengan akhir tahun tidak ada perubahan," ujar Jonan.

    Bukan hanya listrik, Jonan juga menyebut pemerintah masih belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi, baik premium maupun solar. "Sampai sekarang untuk premium atau gasoline 88 dan gasoil c48 itu tidak ada pertimbangan untuk menaikkan harga."

    Sommeng mengatakan kemungkinan pemerintah untuk menaikkan tarif listrik terjadi apabila ada parameter yang berubah. Parameter yang menjadi acuan penentuan komponen harga antara lain adalah nilai tukar rupiah, energi primer, dan inflasi. 

    "Sekarang ini kan kurs sudah stabil, harga ICP juga sudah turun, inflasi juga rendah terus," kata Sommeng. "Memang ada tarif adjustment yang sementara ini tidak kita pakai karena kita lihat parameternya masih oke." 

    Baca berita tentang tarif listrik lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.