Tarif Listrik RI Mahal atau Murah di ASEAN, Cek Dulu Faktanya

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas PLN melakukan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) penggantian ikatan kabel A3CS di isolator yang

    Sejumlah petugas PLN melakukan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) penggantian ikatan kabel A3CS di isolator yang "flash over" di kawasan Tenau, Kupang, NTT, 21 Juli 2017. PDKB dilakukan untuk mengurangi pemadaman listrik. ANTARA/Widodo S Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian ESDM memastikan tarif listrik di Indonesia masih kompetitif dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan data Juni 2018 menunjukkan bahwa tarif tenaga listrik di Indonesia cukup bersaing bila dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan Vietnam.

    Baca: PLN: Tarif Listrik Tidak Naik Sampai Tahun Depan

    "Berdasarkan data yang kami himpun, kami pastikan bahwa selain kompetitif, tarif listrik di Indonesia juga paling stabil dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Minggu, 26 Agustus 2018.

    Besaran tarif rata-rata saat ini untuk pelanggan rumah tangga 450 VA sebesar Rp 415 per kWh, rumah tangga 900 VA tidak mampu sebesar Rp 586 per kWh, Rumah tangga 900 VA mampu sebesar Rp 1.352 per kWh dan pelanggan non subsidi (tariff adjustment), sebesar Rp 1.467 per kWh.

    Untuk tarif adjustment, tarif tenaga listrik di Indonesia bagi pengguna rumah tangga non subsidi ini dikonversikan sekitar US$ 11 sen per kWh, masih lebih murah dibanding tarif listrik rumah tangga di Thailand yang mencapai US$ 12,41 sen per kWh, Singapura US$ 19,97 sen per kWh, dan Filipina US$ 18,67 sen per kWh.

    Untuk tenaga listrik konsumen bisnis menengah, tarif di Indonesia dan Thailand adalah US$11 sen per kWh, lebih rendah dibandingkan Malaysia (US$13,58 sen per kWh), Singapura (US$14,30 sen per kWh), Filipina (US$12,23 sen per KWh) dan Vietnam (US$13,44 sen per kWh).

    Bahkan, untuk jenis pengguna bisnis besar, tarif tenaga listrik di Indonesia termasuk yang termurah se-ASEAN, yakni 8,36 sen USD/kWh, bila dibandingkan konsumen kelas yang sama di Singapura yang mencapai 14,02 sen USD/kWh, Vietnam 11,98 sen USD/kWh, Thailand 11 sen USD/kWh, Filipina 11,98 sen USD/kWh, dan Malaysia 9,60 sen USD/kWh.

    Di samping itu, untuk jenis pengguna industri menengah, tarifnya di Indonesia dan Thailand sebesar 8,36 sen USD/kWh, lebih murah daripada tarif di Singapura yang mencapai 13,05 sen USD/kWh, Filipina 11,69 sen USD/kWh. Tarif ini sama dengan besaran tarif tenaga listrik kelas yang sama di Thailand, namun berada sedikit di atas Malaysia yang tarifnya 8,29 sen USD/kWh dan Vietnam 7,81 sen USD/kWh.

    Tarif tenaga listrik pengguna industri besar yang sebesar US$7,47 sen per kWh, hanya sedikit lebih tinggi dibanding Vietnam (US$7,41 sen per kWh). Untuk kelas ini Singapura mematok tarif US$12,72 sen per kWh, Filipina US$11,63 sen per kWh, Thailand US$8,36 sen per kWh dan Malaysia (US$7,76 sen per kWh).

    Lebih lanjut, Agung menjelaskan komitmen Pemerintah untuk menjaga tarif yang lebih kompetitif di tahun mendatang. "Coba bandingkan dengan negara lain. Pemerintahan mereka sudah beberapa kali menaikkan tarif listrik. Sementara, kami tidak ada perubahan tarif listrik bahkan kami optimistis akan menciptakan tarif yang lebih kompetitif bila program 35.000 MW berjalan sesuai target," kata Agung.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.