Upaya BI Mengendalikan Dolar Dinilai Tak Cukup Menguatkan Rupiah

Seorang perempuan menunjuukan uang pecahan lama yang akan ditukarkan nasabah di kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Serangkaian upaya Bank Indonesia mengurangi ketergantungan dolar AS dalam transaksi perdagangan ekspor impor dinilai tak cukup efisien memperkuat kurs rupiah. Adapun upaya tersebut di antaranya adalah kerja sama penerapan local currency settlement (LSC) dan bilateral swap dengan sejumlah negara.

Baca: Awal 2019, Kurs Rupiah Jisdor Menguat ke Rp 14.465 per Dolar AS

“Karena pergerakan rupiah bukan hanya dipengaruhi oleh supply demand valas untuk ekspor impor, tapi utamanya dari pergerakan aliran modal portofolio asing, ini yang sering kali menghantam rupiah,” ujar Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah, kepada Tempo, Rabu 2 Januari 2019.

Piter mencontohkan hal itu tercermin dari pergerakan modal asing tahun lalu, ketika investor asing meutuskan untuk memindahkan investasi dari Indonesia seiring dengan penguatan dolar AS dan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). “Saat itu rupiah langsung bergerak melemah luar biasa, dan ketika aliran modal asing defisit tdak cukup menutup defisit neraca transaksi berjalan (CAD).” Dengan demikian, menurut dia, dampak dari serangkaian kesepakatan seperti LSC dan bilateral swap tak begitu besar terhadap stabilitas kurs rupiah.

Meski demikian, menurut Piter kebijakan pengendalian dolar AS dalam transaksi dagang itu tetap perlu dioptimalkan untuk memitigasi tekanan pada kebutuhan valas untuk membiayai ekspor impor. “Dan karena ini memang lebih mudah untuk dikontrol dibandingkan dengan upaya perbaikan struktur modal asing yang gampang-gampang susah,” katanya.

Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yoga Afffandi pun mengungkapkan perkembangan penerapan kebijakan LCS yang telah tersedia antara BI dengan Bank Negara Malaysia dan Bank of Thailand, sejak pertama kali diterapkan pada awal Januari 2018. Hingga pekan kedua Desember 2018, total transaksi LCS menggunakan Thailand Bath (THB) dan Ringgit Malaysia (MYR) masing-masing mencapai US$ 1,5 miliar dan US$ 495 juta. “Untuk efektivitasnya tentu akan kami kaji dan melihat berbagai hal untuk meningkatkan volumenya,” ujarnya, kepada Tempo.

Kerja sama LCS dilakukan berdasarkan pertimbangan jalinan hubungan perdagangan yang era tantara Indonesia dengan Thailand dan Malaysia. Adapun kedua negara tersebit masuk ke dalam sepuluh besar mitra dagang utama Indonesia. Bank Indonesia pun telah menerbitkan peraturan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal, yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 19 / 11 / PBI / 2017.

Yoga menuturkan dengan upaya tersebut diharapkan akan membantu mengurangi ketergantungan perdagangan yang selama ini sangat mengandalkan dolar AS. Dengan demikian, pasar mata uang regional dapat berkembang dan memperkuat akses pelaku usaha dalam membayar kewajibannya menggunakan mata uang lokal.

Dia menambahkan ke depan tak menutup kemungkinan bank sentral juga akan memperluas kerja sama tersebut dengan bank sentral negara lain. “Kami sedang mengkaji hal itu,”

Baca: 2019, Nilai Tukar Rupiah Masih Banyak Bergantung Ekonomi Global

Sementara itu, untuk kebijakan bilateral swap menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo telah dilakukan efektif dengan sejumlah negara. Hal itu di antaranya untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi antar pelaku ekonomi kedua negara, menggunakan mata uang lokal masing-masing seperti rupiah. “Ke depan kerja sama semacam ini akan diperkuat dan diperluas,” katanya.






Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Level Rp 15.400

3 jam lalu

Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Level Rp 15.400

Rupiah kemungkinan akan bergerak di level Rp 15.400-15.470 sepanjang hari ini.


Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

3 hari lalu

Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

Rupiah menguat 0,85 persen dari posisi kemarin yang ditutup di level Rp 15.563.


Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

3 hari lalu

Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Desember 2022 dengan penguatan 169 poin di level Rp 15.563 per dolar AS.


Rupiah Lesu di Level Rp15.730, Demonstrasi Cina dan Kebijakan The Fed Jadi Sentimen

6 hari lalu

Rupiah Lesu di Level Rp15.730, Demonstrasi Cina dan Kebijakan The Fed Jadi Sentimen

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi melemah.


Kurs Rupiah Melemah ke 15.728 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?

6 hari lalu

Kurs Rupiah Melemah ke 15.728 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?

Kurs rupiah melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin, 28 November 2022.


Utang Pemerintah per Oktober 2022 Dekati Rp 7.500 Triliun, Ini Rinciannya

7 hari lalu

Utang Pemerintah per Oktober 2022 Dekati Rp 7.500 Triliun, Ini Rinciannya

Kementerian Keuangan menyebutkan utang pemerintah per Oktober 2022 mencapai Rp 7.496,7 atau mendekati Rp 7.500 triliun.


Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

9 hari lalu

Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup melemah 7 poin.


Ghana Beli Minyak Pakai Emas, Bukan Lagi Dolar AS

9 hari lalu

Ghana Beli Minyak Pakai Emas, Bukan Lagi Dolar AS

Ghana tak lagi membeli minyak menggunakan dolar AS, melainkan emas.


1 Riyal Qatar Berapa Rupiah? Begini Penjelasan Cara Hitungnya

11 hari lalu

1 Riyal Qatar Berapa Rupiah? Begini Penjelasan Cara Hitungnya

Penjelasan mengenai 1 Riyal Qatar berapa rupiah beserta sejarah dan cara menghitungnya.


Kurs Rupiah Ditutup Menguat Rp 15.696 per Dolar AS, Analis: Ada Ancaman Baru

12 hari lalu

Kurs Rupiah Ditutup Menguat Rp 15.696 per Dolar AS, Analis: Ada Ancaman Baru

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp 15.696 per dolar AS dalam perdagangan Selasa sore, 22 November 2022.