Sri Mulyani Sebut Negara-negara G20 Tak Kompak Lagi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua dari kiri), berfoto dengan para pemimpin G20 dalam KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Jumat, 30 November 2018. JK didampingi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani. REUTERS/Kevin Lamarque

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua dari kiri), berfoto dengan para pemimpin G20 dalam KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Jumat, 30 November 2018. JK didampingi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani. REUTERS/Kevin Lamarque

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa suasana pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, beberapa waktu belakangan berbeda dengan saat pertama kali forum ini dibentuk. "Kekompakan, kebersamaan dan kesepakatan bersama sepuluh tahun yang lalu seperti menguap," kata bekas Direktur Bank Dunia itu melalui akun Facebooknya, Ahad, 2 Desember 2018.

    BACA: Prabowo Kritik Utang, Luhut: Negara Kita Gak Miskin - miskin Amat

    Hal itu, kata Sri Mulyani, tampak dari belum meratanya pemulihan ekonomi di sejumlah negara paska dilanda gejolak perekonomian. Selain itu, kebijakan ekonomi antara negara semakin tidak padu dan tidak searah. 

    Bahkan, Sri Mulyani berujar beberapa waktu terakhir malah terjadi ketegangan antara negara akibat kebijakan konfrontasi perdagangan, normalisasi kebijakan moneter, dan kenaikan suku bunga The Fed. Kebijakan itu menimbulkan arus modal keluar dan gejolak nilai tukar di negara-negara emerging.

    Belum lagi, belakangan perekonomian global juga menghadapi naik turunnya harga komoditas, khususnya minyak, serta persaingan kebijakan pajak yang berlomba saling menurunkan.

    Padahal, pada pertemuan pertama G20 Leaders 2008 di Washington DC Amerika Serikat dan pertemuan kedua 2009 di London Inggris, para pemimpin dunia bersepakat untuk bersama-sama menyelamatkan ekonomi dunia dari kehancuran.

    Kala itu, negeri Abang Sam dilanda krisis ekonomi dengan bangkrutnya Lehmann Brothers dan perusahaan asuransi dunia AIG. Peristiwa itu sempat memicu kepanikan dan krisis keuangan seluruh dunia.

    Para pemimpin negara, kata Sri Mulyani, waktu itu sepakat untuk membangun kembali perekonomian melalui kebijakan moneter, fiskal dan mendorong sektor riil. Fokus lain yang sangat penting adalah melakukan reformasi regulasi dan kebijakan sektor perbankan dan keuangan untuk menghindarkan krisis keuangan kembali terjadi.

    "Pada 2008, semua pemimpin negara G20 kompak sepakat menyelamatkan ekonomi dunia dengan kebijakan ekonomi satu arah dan saling mendukung, karena mereka percaya bahwa ekonomi global harus dijaga bersama," kata Sri Mulyani mengenang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.