Minggu, 16 Desember 2018

Ridwan Kamil Meminta Konsorsium Kereta Cepat Bangun LRT Bandung

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka rapat koordinasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Daerah Se Jawa Barat di Bandung, Selasa, 13 Nopember 2018. (dok Pemprov Jabar)

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka rapat koordinasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Daerah Se Jawa Barat di Bandung, Selasa, 13 Nopember 2018. (dok Pemprov Jabar)

    TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta konsorsium kereta cepat Jakarta - Bandung, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), menggarap seluruh trase LRT (Light Rapid Transit) Bandung Raya. Permintaan itu disampaikan dalam rapat dengan konsorsium tersebut hari ini, Jumat, 30 November 2018.

    Baca: Menhub Budi Karya Sumadi Jamin Proyek LRT Rampung Sesuai Target

    Konsorsium PSBI lewat PT Kereta Cepat Indonesia China baru menyanggupi menggarap rute perdana LRT Bandung Raya untuk trase Tegalluar - Riau. “Dia punya kebutuhan membangun (LRT) yang Tegalluar ke Martadinata (Jalan Riau). Maka saya titipkan sisanya kalau bisa dikerjakan mereka,” kata Ridwan Kamil, Jumat, 30 November 2018.

    Ridwan Kamil mengatakan, jaringan LRT Bandung Raya seluruhnya terdapat 8 rute, termasuk rute Tegalluar-Martadinata. Dia menginginkan agar sekaligus semua trase LRT Bandung Ray digarap konsorsium kereta cepat Jakarta-Bandung.

    Ridwan Kamil mengatakan, taksiran dana yang dibutuhkan untuk membangun 7 trase LRT Bandung Raya itu bergantung teknologi kereta yang dipergunakan. “Kalau pakai teknologi yang seperti (LRT) di Palembang (anggarannya) Rp 8,6 triliun. Kalau pakai teknologi Metro Kapsul yang sempat diwacanakan di Kota Bandung paling Rp 5 triliun,” kata dia.

    Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik mengatakan, kereta cepat Jakarta-Bandung harus terkoneksi dengan LRT Bandung Raya. “Kita bukan hanya bicara satu trase LRT Bandung saja, tapi bicara metropolitan Bandung Raya. Berarti harus ada 8 trase yang harus terhubung," kata dia, Jumat, 30 November 2018.

    Trase pertama yang disanggupi digarap konsorsium PSBI dan KCIC yakni Tegalluar-Bypass-Buahbatu-Lingkar Selatan-Martadinata. Trase tersebut memanfaatkan median jalan raya sepanjang rute tersebut. Rencana pembangunannya juga harus sinkron dengan rencaan jalan tol dalam kota Norths-South (NS) Bandung, jalan tol dalam kota terusan jalan tol Soroja (Soreng Pasirkoja).  

    Konektivitas antara kereta cepat dan LRT juga harus terintegrasi sehingga tidak dikembangkan parsial. “Kota Bandung sekarang mengembangkan Metro Kapsul. Kalau memungkinkan itu, kenapa nggak. Yang penting murah, terjangkau,” kata Dedi. “Pembangunannya harus simultan, Juni 2021 kereta cepat selesai, LRT Bandung Raya berarti harus segera memulai dari sekarang. Dua tahun ke depan harus ada progress.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".