Boeing Tanggapi Laporan KNKT Soal Penyebab Lion Air Jatuh

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga korban melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Keluarga korban melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT hari ini mengeluarkan laporan awal terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta – Pangkalpinang pada 29 Oktober 2019. Pabrikan Pesawat The Boeing Company ikut menanggapi laporan yang dikeluarkan KNKT itu.

    Baca: Pilot: Pesawat Boeing 737 Max 8 Sulit Dikendalikan Saat Turun

    “Boeing menghargai Komite Keselamatan Transportasi Nasional Indonesia atas upaya yang dilakukan untuk menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan,” tulis Boeing dalam situs resminya www.boeing.com, Rabu, 28 November 2018.

    Boeing mengambil langkah-langkah untuk memahami semua aspek yang terjadi dalam kecelakaan itu. Boeing juga bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi Amerika Serikat sebagai penasihat teknis untuk mendukung KNKT Indonesia dalam melakukan penyelidikan selanjutnya.

    Dalam keterangannya itu, Boeing mengutip beberapa hasil dari laporan awal yang dikeluarkan oleh KNKT Indonesia. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pesawat telah mengalami masalah terkait kecepatan udara dan ketinggian. Masalah tersebut sudah muncul dalam empat penerbangan sebelum pesawat jatuh.

    Dalam catatan teknis menunjukkan bahwa berbagai prosedur pemeliharaan telah dilakukan. Pada 27 Oktober, dua hari sebelum insiden terjadi, salah satu sensor Angle of Attack (AOA) pesawat telah diganti.

    Boeing menjelaskan dalam laporan awal itu pada 28 Oktober 2018 sebelum penerbangan JT 610 Jakarta-Pangkalpinang, telah dilakukan pemeriksaan pre-flight. Pilot in Command (PIC) yang bertugas saat itu juga sudah melakukan diskusi dengan teknisi terkait tindakan perawatan pesawat udara yang telah dilakukan termasuk adanya informasi bahwa sensor Angle of Attack (AoA) yang diganti dan diuji sebagai salah satu solusi dari permasalahan itu.

    Laporan itu menyatakan berdasarkan catatan teknis dikatakan bahwa pilot melakukan tiga prosedur daftar periksa non-normal, termasuk daftar periksa runaway stabilizer, yang merupakan item memori yang ditentukan oleh 737 MAX Penerbangan Crew Operations Manual. “Ditegaskan kembali dalam Boeing Flight Crew Operations Buletin Manual TBC- 19 dan FAA Emergency Airworthiness Directive (AD) Nomor 2018-23-51, sebagai prosedur yang tepat untuk mengatasi gerakan stabilizer horizontal yang tidak diinginkan,” tulisnya.

    Laporan tersebut juga menyatakan bahwa setelah mendarat, pilot melaporkan beberapa masalah yang dialami dalam penerbangan itu. Keesokan harinya pada 29 Oktober 2018, tak lama setelah lepas landas, pilot mengalami masalah dengan data ketinggian dan kecepatan udara yang dialami pilot pada penerbangan sebelumnya, karena data AOA yang salah.

    Data laporan itu menjelaskan pula bahwa, seperti pada penerbangan sebelumnya, pesawat mengalami penurunan moncong otomatis. Pilot berulang kali mencoba menaikkan moncong pesawat dan mampu mempertahankan kendali pesawat selama sekitar sepuluh menit.

    “Tidak seperti yang dinyatakan sehubungan dengan penerbangan Lion Air sebelumnya, laporan tidak menyatakan apakah pilot melakukan prosedur runaway stabilizer atau memotong switch trim stabilizer.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.