BI: Penyesuaian Suku Bunga Tidak Bergantung The Fed

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Solo - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan keputusan bank sentral menyesuaikan suku bunga acuan tidak bergantung dengan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

    Baca juga: BI Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 6 Persen

    "Kalau bicara 'pre emptive, ahead the curve' jangan pernah berpikir BI berhadap-hadapan dengan Fed, karena BI bergantung kepada data (data dependence)," kata Dody dalam pelatihan wartawan di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 17 November 2018.

    Kamis lalu, BI menaikkan suku bunga acuan pada November 2018, sebesar 0,25 persen menjadi enam persen, dari sebelumnya 5,75 persen. Kebijakan ini dilakukan untuk mengantisipasi modal keluar dari domestik akibat kenaikan suku bunga kebijakan moneter di pasar global.

    Dody menjelaskan BI membuat kebijakan terkait suku bunga acuan dengan mempertimbangkan risiko inflasi, pergerakan nilai tukar, serta penilaian terhadap kondisi perekonomian domestik maupun global terkini. Karena itu, ia memastikan pemahaman atas data perekonomian tersebut yang akan digunakan untuk memutuskan kebijakan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate.

    Dody mencontohkan ketika Fed menaikkan suku bunga acuan pada pertengahan 2018, BI tidak ikut menyesuaikan karena berdasarkan data tidak ada urgensi untuk ikut menaikkan.

    Hal tersebut telah terbukti tepat karena aliran modal tetap masuk ke Indonesia. Apalagi pada waktu itu pasar keuangan sudah melakukan antisipasi (price in) dengan rencana Fed.

    "Kejadian 'fed fund rate' ini sudah dikalkulasi dan pasar 'price in'. Tidak ada 'outflow", tapi malah 'inflow' yang masuk ekonomi kita. Rupiah memang melemah sedikit, tapi kembali ke normal," ujar Dody soal keputusan BI menaikkan suku bunga.

    Terkait penyesuaian suku bunga pada Desember 2018, ia kembali menegaskan keputusan dilakukan melalui pemahaman atas data, meski ada kemungkinan Fed akan menaikkan suku bunga acuan jelang akhir tahun.

    "Kita lakukan 'assessment' itu, tapi untuk kebijakan yang kita ambil, kita lihat nanti. Memang ini ambigu tapi jelas," ujarnya.
    Ekseptasi pasar keuangan global menyebutkan Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi tahun ini pada Desember 2018.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.