Ini Alasan Kementan Usul Impor Jagung Hingga 100 Ribu Ton

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi jagung. REUTERS/Francois Lenoir

    Ilustrasi jagung. REUTERS/Francois Lenoir

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menjelaskan alasan perlu impor jagung hingga 100 ribu ton. Hal itu merespons ucapan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution kemarin yang mengatakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengusulkan untuk impor jagung. Padahal, kata Syukur saat ini pemerintah melakukan ekspor jagung.

    BACA: Jagung Diduga Langka: Beda Kementan, Beda Pula Satgas Pangan

    "Ada suatu pertanyaan, di satu sisi kita ekspor, di sisi lain kita ada rencana impor.
    Kenapa? Ekspor kadar air dan mutu sama, antar 14-15 persen, yang untuk pakan juga sama mutunya 14-15 persen. Ini yang terjadi, perbedaan biaya transportasi tujuan penjualan pasar domestik dan tujuan ekspor," kata Syukur di Kementerian Pertanian, Jakarta, Sabtu, 3 November 2018.

    Syukur mengambil satu contoh, biaya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, biayanya lebih mahal dari dibandingkan kalau melakukan penjualan ekspor ke Malaysia atau dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang Malaysia.

    Syukur mengatakan dari pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, Belitung perjalanan untuk mobil angkut itu setiap 14 ton biayanya Rp 33 juta, belum termasuk biaya solar mobil dan lainnya.

    "Sementara dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Port Klang Malaysia untuk 24-27 ton biayanya US$ 1.750 kalau US$ 1 Rp 15 ribu masih sekitar 25 juta itu dengan kapasitas rata-rata 25 ton, biaya tersebut sudah dengan semua pengurusan dokumen," kata Syukur.

    BACA: Kementan Jawab Kritik Fadli Zon Soal Harga Jagung

    Pada Jumat, 2 November, Darmin Nasution mengatakan harga jagung sedang naik, padahal sedang diperlukan. Darmin mengatakan, karena itu Amran Sulaiman mengusulkan ada impor. "Jadi, jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan dan Menteri Pertanian mengusulkan ada impor dan perlu cepat untuk perusahaan peternakan kecil menengah, terutama peternakan telur," kata Darmin.

    Sedangkan Syukur mengatakan Darmin telah memerintahkan kepada Amran untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100.000 dan menugaskan kepada Perum Bulog untuk melakukan impor.

    Lebih lanjut Syukur mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun. Itu artinya, kata Syukur 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering.

    Prakiraan ketersediaan produksi jagung November sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare, bulan desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare.

    Sementara dari sisi kebutuhan, kata Syukur berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan  Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK, terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan induslri pangan 4,76 juta ton PK.

    "Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Philipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton," kata kaya Syukur.

    BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.