Susi Tawarkan Investasi Pengolahan Perikanan ke Timur Tengah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Jembrana, Bali pada Rabu, 10 Oktober 2018. Dalam kegiatan tersebut Menteri Susi melakukan dialog dengan nelayan sekitar dan menyaksikan langsung proses bongkar muat hasil tangkapan nelayan. Foto/Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri KKP

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Jembrana, Bali pada Rabu, 10 Oktober 2018. Dalam kegiatan tersebut Menteri Susi melakukan dialog dengan nelayan sekitar dan menyaksikan langsung proses bongkar muat hasil tangkapan nelayan. Foto/Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri KKP

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menawarkan investasi pengolahan perikanan kepada para investor Timur Tengah yang hadir dalam sidang tahunan Islamic Chamber of Commerce, Industry, and Agriculture (ICCIA) 2018.

    Baca: Sindir Sandiaga, Susi: Literatur Banyak, Tinggal Mau Belajar

    Susi menjelaskan, saat ini bisnis pengolahan perikanan merupakan hal yang menjanjikan. "Saat ini stok ikan naik hingga 18 juta ton selama empat tahun," ujar dia dalam pemaparannya, Selasa, 22 Oktober 2018.

    Jaminan hukum, kata Susi, merupakan hal yang diperlukan oleh pengusaha untuk menginvestasi uangnya dalam bisnis. Susi menjamin kepastian hukum untuk para investor.

    Sebelumnya, Susi juga memaparkan soal keinginannya yang ingin meningkatkan bisnis perikanan di Indonesia. Salah satu negara yang sudah berindustri di pengolahan perikanan, ujar Susi ialah Jepang.

    ICCIA 2018 diselenggarakan oleh Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani menjelaskan, hubungan ekonomi antara negara anggota ICCIA menunjukkan tren positif. "Dengan ini kami berkomitmen meningkatkan hubungan pemerintahan dan pekerintah serta interaksi bisnis ke bisnis agar dapat mempromosikan kerja sama ekonomi antar negara ICCIA," kata dia.

    Sidang tahunan ICCIA 2018, kata Rosan, berpotensi untuk menjadi paradigma baru dalam menghadapi fenomena dan penyelesaian gejolak perekonomian global. Khususnya di sektor keuangan, dapat menjadi instrumen untuk mengurangi kemiskinan.

    Dalam pertemuan ini, para anggota ICCIA akan membahas berbagai topik perekonomian syariah. Isu-isu yang akan dibahas antara lain, perdagangan, informasi teknologi, asuransi, pengiriman, pwrbankan, promosi peluang investasi dan joint venture.

    Simak terus berita tentang perikanan hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.