Sri Mulyani Klaim Pengelolaan Pembiayaan Utang Membaik

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sambutannya pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga dua kali menjabat Menteri Keuangan RI di masa presiden SBY dan Jokowi.  ANTARA/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sambutannya pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga dua kali menjabat Menteri Keuangan RI di masa presiden SBY dan Jokowi. ANTARA/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pertumbuhan pembiayaan utang hingga September 2018 turun 25,14 persen jika dibandingkan periode yang sama 2017. "Ini yang menggambarkan kami betul-betul memiliki kehati-hatian dalam situasi yang sedang tidak pasti," kata Sri Mulyani di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Rabu, 17 Oktober 2018.

    Baca: Sri Mulyani Usul Asumsi Kurs di RAPBN 2019 Rp 15 Ribu Per Dolar

    Sri Mulyani mengatakan hal itu seiring dengan komitmen pemerintah untuk tetap mendorong pengelolaan utang yang prudent dan terukur. Pengelolaan utang antara lain dengan menjaga rasio utang dalam batas aman, meningkatkan efisiensi atas pengelolaan utang, mendorong pemanfaatan utang untuk kegiatan produktif serta menjaga keseimbangan pengelolaan utang.

    "Pembiayaan anggaran sampai dengan akhir September 2018 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya seiring dengan berkurangnya realisasi SBN neto," kata Sri Mulyani.

    Sri Mulyani mengatakan realisasi pembiayaan yang dilakukan pemerintah, kata Sri Mulyani hingga September 2018 mencapai Rp 292,83 triliun, yang utamanya bersumber dari pembiayaan melalui utang sebesar Rp 304,94 triliun, atau mencapai 76,4 persen dari target APBN 2018.

    Menurut Sri Mulyani realisasi pembiayaan utang tersebut terdiri dari penerbitan SBN (neto) sebesar Rp 308,76 triliun atau mencapai 74,5 persen dari APBN 2018 dan pinjaman (neto) sebesar minus Rp 3,82 triliun atau sekitar 25,0 persen dari rencana Pemerintah di 2018.

    Adapun Sri Mulyani mengatakan defisit APBN sampai dengan September 2018 sebesar Rp 200,2 triliun. Menurut Sri Mulyani angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 272 triliun. Sedangkan pada Agustus 2018 defisit APBN sebesar Rp 150,7 triliun.

    "Postur APBN sampai September 2018 menggambarkan APBN 2018 masih sangat baik posisinya dan lebih baik dari 2017," kata Sri Mulyani.

    Sri Mulyani mengatakan defisit tersebut sama dengan sekitar 1,35 persen PDB. Sedangkan September tahun sebelumnya defisit sebesar 2,00 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.