Rabu, 14 November 2018

Kisah Gonta-ganti Direktur Utama Garuda Indonesia

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Garuda Indonesia. AP/Dita Alangkara

    Ilustrasi Garuda Indonesia. AP/Dita Alangkara

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. Pahala Nugraha Mansury santer disebut akan dicopot dari posisinya saat ini. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki wewenang terkait keputusan ini dalam Rapat Umum Pemegang Sama Luar Biasa atau RUPSLB, Rabu besok, 12 September 2018.

    Baca: Pahala Nugraha Siap Dicopot Sebagai Dirut Garuda

    Pahala dikabarkan akan meninggalkan Garuda Indonesia dan selanjutnya mengisi salah satu kursi direksi PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN. "Kalau sudah ditugaskan, harus siap misalnya diganti," kata Pahala di Garuda City Center, Cengkareng, Senin, 10 September2018.

    Dalam perjalanannya, pengisi posisi bos Garuda Indonesia memang berkali-kali berganti orang. Sebagian karena mengundurkan diri lalu terjerat kasus pidana, hingga diberhentikan karena kinerja yang tidak maksimal. Berikut daftar nama direktur utama Garuda Indonesia yang beberapa kali berganti dalam beberapa tahun terakhir:

    1. Indra Setiawan (7 Mei 2002 - 21 Maret 2005)

    Indra terpilih menjadi Direktur Utama Garuda menggantikan Abdul Gani yang telah lebih dulu mengundurkan diri. Ia terpilih sebagai Direktur Utama mengalahkan kandidat kuat. Samudra Sukardi, kakak kandung Menteri BUMN saat itu, Laksamana Sukardi. Tiga tahun setelah mengakhiri masa jabatan pada 2005, Ia divonis satu tahun penjara karena membantu terpidana Pollycarpus Budihari Priyanto dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

    2. Emirsyah Satar (21 Maret 2005 - 12 Desember 2014)

    Emirsyah Satar yang semula menjabat sebagai direktur keuangan kemudian dipilih menjadi Direktur Utama menggantikan Indra. Ia merupakan salah satu Direktur Utama dengan masa jabatan terlama, hampir 10 tahun. Tiga tahun usai mengundurkan diri, Januari 2017, ia ditetapkan sebagai tersangka dugaan penerimaan suap pembelian pesawat ketika menjabat Direktur Utama oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK.

    3. M. Arif Wibowo (12 Desember 2014 - 12 April 2017)

    Setelah Emirsyah mengundurkan diri, Kementerian BUMN pun menunjukan Arif Wibowo. Arif adalah sosok yang cukup berhasil membawa anak perusahaan Garuda, Citilink Indonesia, menjadi salah satu pemain kuat dalam penerbangan berbiaya murah atau Low Cost Carrier.

    Tapi di Garuda Indonesia, ternyata Menteri BUMN Rini Soemarno menilai kinerja Arif belum maksimal mengangkat kinerja perusahaan sehingga memberhentikan secara hormat. Ia digantikan oleh Pahala Mansury.

    4. Pahala Nugraha Mansury (12 April 2017 - sekarang)

    Pahala yang sebelumnya menjadi Direktur Keuangan PT Bank Mandiri ditunjuk Kementerian BUMN agar bisa menyelesaikan masalah keuangan yang mendera perusahaan plat merah ini. Beberapa saat sebelum Pahala menjabat, kerugian yang diderita Garuda Indonesia mencapai Rp 825 miliar pada semester pertama 2016.

    Baca: Pertemuan IMF - World Bank, Garuda Tambah 14 Penerbangan

    Kini Pahala dikabarkan akan digeser menjadi direktur keuangan di PLN meski belum ada kepastian dari Rini Soemarno. Di sisi lain, kinerja keuangan PLN memang masih jeblok, rugi Rp 5,35 triliiun pada semester I 2018.

    Simak berita menarik lainnya terkait Garuda Indonesia hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?