Rini Soemarno Akan Rombak Direksi Pertagas

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno berfoto di dalam kokpit pesawat angkut militer Airbus A400M AU Prancis dalam rangka misi Pegasus 2018, di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa, 21 Agustus 2018. Dalam misi ini, Prancis memamerkan keunggulan industri pesawat dan proyeksi kekuatan pertahanan udara miliknya. TEMPO/Imam Sukamto.

    Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno berfoto di dalam kokpit pesawat angkut militer Airbus A400M AU Prancis dalam rangka misi Pegasus 2018, di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa, 21 Agustus 2018. Dalam misi ini, Prancis memamerkan keunggulan industri pesawat dan proyeksi kekuatan pertahanan udara miliknya. TEMPO/Imam Sukamto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan akan ada perubahan direksi PT. Pertamina Gas atau Pertagas. Hal tersebut dilakukan usai beberapa waktu lalu PT Perusahaan Gas Negara Tbk. atau PGN mengakuisisi Pertagas.

    BACA: Rupiah Melemah, Rini Soemarno Siapkan Sejumlah Langkah

    "Ya perubahan pasti ada, karena biar gimana nanti kan sudah menjadi holding, Pertamina sebagai holding migas tentunya kan Pertamina menjadi induknya dan tentunya harus ada perubahan sehingga itu benar-benar sudah menjadi satu kesatuan," kata Rini Soemarno saat ditemui usai HUT Polwan di Monumen Nasional, Jakarta, Senin, 3 September 2018.

    Pada, 3 Juli 2018, PGN harus mencari dana segar sekitar Rp 11,06 triliun untuk mengakuisisi 51 persen saham di PT Pertamina Gas berikut anak perusahaannya, PT Pertagas Niaga. Sebab, dari Rp 16,6 triliun total nilai akuisisi, PGN hanya bisa menggelontorkan kas internal sekitar Rp 5,54 triliun.

    BACA: Menteri BUMN Rini Soemarno Minta Digitalisasi SPBU Dipercepat

    "Untuk funding-nya, dua pertiga dari eksternal, sepertiga dari internal. Untuk pembiayaan eksternal, kami akan ambil efek yang paling minimal," kata Direktur Keuangan PGN Said Reza Pahlevy dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018.

    Menurut Reza, nilai pembiayaan Rp 11,06 triliun ini akan berasal dari sejumlah perbankan, termasuk di antaranya bank plat merah. Meski begitu, ia belum bersedia menyebutkan daftar bank yang bersedia memberikan pinjaman kepada PGN untuk menyelesaikan proses akuisisi ini. "Kami punya waktu 90 hari untuk menyelesaikannya," ujarnya.

    Sebelumnya, perusahaan dengan kode emiten PGAS ini secara resmi telah mengakuisisi Pertamina Gas setelah menandatangani conditional sales purchase agreement  atau CSPA pada Jumat, 29 Juni 2018. "Untuk sementara, skema integrasi adalah akuisisi," ujar Deputi Bidang Jasa Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara Fajar Harry Sampurno saat itu.

    Nilai transaksi Rp 16,6 triliun ini merupakan harga pembelian untuk 2.591.099 lembar saham yang dimiliki PT Pertamina dalam Pertagas. Meski begitu, hanya Pertagas Niaga yang akan beralih kepemilikan PGN. Anak perusahaan Pertagas lain, seperti PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta Samtan Gas, dan PT Perta Kalimantan Gas, tetap dalam pengelolaan Pertamina.

    Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim mengatakan proses akuisisi ini merupakan bagian dari holding BUMN migas yang terus berjalan. Setelah mengakuisisi 51 persen saham, kini PGN bisa mengendalikan sepenuhnya bisnis Pertagas, terutama di Pertagas Niaga. "Kalau yang 49 persen belum kami pikirkan, sekarang fokus untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur ke depan dulu," ucap Jobi.

    Baca berita tentang Rini Soemarno lainnya di Tempo.co.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.