Selasa, 17 September 2019

General Electric Merambah Bisnis PLTU

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo General Electric (GE). REUTERS/Mike Blake

    Logo General Electric (GE). REUTERS/Mike Blake

    TEMPO.CO, JAKARTA - General Electric menyatakan bakal memperluas bisnisnya di pengembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sebelumnya, perusahaan hanya berbisnis di sektor teknologi pembangkit listrik tenaga gas, ataupun energi terbarukan lainnya.
     
     
    Rencana tersebut dikemukakan Country Director GE Power Indonesia David Hutagalung. Menurut dia, perusahaan sudah memiliki peluang besar dari segi teknologi setelah mengakuisisi Alstom, korporasi sektor energi asal Perancis, pada 2015 silam.
     
    "Proyek yang ada dalam RUPTL (rencana usaha penyediaan tenaga listrik) PLN, selama belum ada provider, kami tertarik," ungkap David kepada Tempo, Rabu 1 Agustus 2018.
     
    Menurut David, perusahaannya saat ini berfokus sebagai penyedia teknologi PLTU. Peluang tersebut diklaim dia terbuka lebar. Pasalnya, pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit batubara hingga 2027 sebesar 26,8 ribu megawatt (MW). Sebagian besar di antaranya dibangun melalui skema pembangkitan listrik swasta (independent power producer). Di Indonesia, GE baru mengantongi komitmen proyek PLTU Jawa III yang berkapasitas 2x660 MW.
     
    Dia menuturkan tantangan dalam berbisnis PLTU domestik saat ini adalah harga listrik. Pemerintah mengatur tarif setrum PLTU tak lebih dari 85 persen biaya pokok produksi daerah setempat. Sementara, kata David, teknologi terdepan untuk pembangkit batubara menelan ongkos yang tak sedikit. "Teknologi ultra super critical memang lebih mahal," katanya.
     
    Saat ini, GE menawarkan PLTU berteknologi ultra super critical dengan efisiensi pembakaran 49 persen. Angka segitu sedikit lebih tinggi ketimbang efisiensi pembangkit teknologi serupa yang rata-rata hanya sekitar 40 persen. Bahkan, PLTU berteknologi subkritical  hanya bisa membakar 35 persen batu bara.
     
    Pembangkit juga dilengkapi dengan perangkat digital yang mampu memonitor kondisi fasilitas secara langsung. "Data itu diolah secara langsung oleh software Predix kami," ujar David. Tujuannya untuk mengantipasi gangguan pembangkit lebih dini.
     
    Fasilitas lainnya yang juga termuat dalam portofolio perusahaan adalah pengendali emisi udara (air quality control systems). Perusahaan mengklaim kandungan sulfur oksida (SO2) bisa dikurangi hingga 98 persen, nitrogen oksida (NO2) sebesar 98 persen, dan partikel material (PM) sebesar 99,9 persen. 
     
    Salah satu pembangkit di Asia Tenggara yang sudah memakai teknologi ultra super critical GE adalah PLTU Manjung 4 milik perusahaan pelat merah Malaysia, Tenaga Nasional Berhad (TNB) Janamanjung. Fasilitas ini mampu memproduksi setrum hingga 1.010 megawatt (MW) dan beroperasi sejak 2015. 
     
    Managing Director TNB Janamanjung Shamsul Ahmad mengklaim pembangkitnya hanya mengeluarkan SO2 sebesar 500 mg/NM3, NO2 sebesar 500 mg/NM3, dan partikel material sebanyak 50. Perusahaan juga mengelola limbah fly ash dari pembangkit untuk dijual ke pabrik semen. Polutan lebih kecil dihasilkan dari efisiensi pembakaran pembangkit yang mencapai 42 persen. "Kami bisa menekan emisi di bawah standar Bank Dunia," ungkap Shamsul.
     
    Sayangnya, Shamsul enggan membeberkan berapa ongkos produksi dari pembangkit ini. Dia hanya menyatakan, harga listrik PLTU sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah.
     
    Asosiasi Pengusaha Listrik Swasta Indonesia menyatakan, jika standar emisi yang ketat berlaku di Indonesia, harga listrik batubara berisiko lebih mahal. "Biaya investasinya sangat tinggi. Risikonya juga besar. Kesulitan di lapangan juga sangat besar," ungkap Juru Bicara Asosiasi Riza Calvary.
     
     
    Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Munir Ahmad, mengemukakan pemerintah sudah menetapkan kebijakan seluruh PLTU yang dibangun dalam program 35 ribu MW menggunakan teknologi ultra super critical. Pemerintah juga berkomitmen tak mengizinkan pembangkit batubara baru di Pulau Jawa. 
     
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.