Rabu, 15 Agustus 2018

Pertamina Kelola Blok Rokan, Biaya Produksi Harus Lebih Murah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kontrak Chevron Habis 2021, Ini Syarat Pengelolaan Blok Rokan. TEMPO/Riyan Nofitra

    Kontrak Chevron Habis 2021, Ini Syarat Pengelolaan Blok Rokan. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform atau IESR, Fabby Tumiwa mengatakan pemerintah perlu memastikan setelah izin pengelolaan wilayah kerja minyak dan gas (migas) di Blok Rokan di Provinsi Riau diberikan kepada PT Pertamina (Persero). Jangan sampai, pengelolaan blok Rokan yang sudah semakin tua justru tak bisa optimal bagi keuntungan negara.

    Baca: Pemerintah Berikan Pengelolaan Blok Rokan ke Pertamina

    "Misalnya, mampukah Pertamina mempertahankan produksinya atau bahkan menaikkannya? Karena itu menjadi concern bagi energy security," kata Fabby usai menjadi pembicara dalam launcing Indonesia Clean Energi Forum di Hotel Double Tree di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 31 Juli 2018.

    Pertamina dan Chevron sebelumnya menyampaikan proposal pengelolaan Blok Rokan ke pemerintah. Tak sedikit kalangan telah meminta pengelolaan blok yang selama ini dikelola PT Chevron Pacific Indonesia dikembalikan lagi kepada negara. Pada akhirnya, tadi malam pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM diminta memberikan izin pengelolaan Blok Rokan yang habis pada 2021 kepada Pertamina.

    Baca: Chevron Andalkan Teknologi Injeksi untuk Kelola Sumur Minyak

    Menurut Fabby, kepastian kemampuan untuk memproduksi penting sebab sekarang usia blok ini semakin tua. Sehingga dibutuhkan teknologi yang relatif baru seperti ehance oil recovery untuk mempertahankan produksi. "Yang punya kemampuan ini kan Chevron, Pertamina kan ngga pernah menerapkan hal itu. Dan harus diingat biaya capital investment dan risikonya tinggi," kata dia.

    Kemudian, pemerintah juga harus memastikan bahwa dengan nantinya jika dikelola oleh Pertamina biaya produksi bisa menjadi lebih murah. Terutama bisa memberikan keuntungan bagi negara dan tentu bagi Pertamina.

    Ke depan, jika memang bisa memberi keuntungan pastinya mampu memberi ruang bagi kegiatan pencarian sumur minyak baru yang juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Hal ini penting, sebab jika Pertamina untung bisa memberikan keleluasaan untuk mencari sumber minyak lain untuk mengamankan produksi minyak dalam jangka panjang. "Sekarang dilihat aja dengan diserahkan ke Pertamina, apakah hal itu hisa dipenuhi? Ketimbang ini harus Pertamina, ini harus Chevron," tutur Fabby.

    Oleh karena itu, Fabby justru menyarankan supaya pengelolaan Blok Rokan bisa dikerjakan bersama-sama. Misalnya dalam hal ini, kombinasi antara Chevron dengan Pertamina. Kepemilikan blok oleh Pertamina tetapi teknologinya menggunakan milik Chevron. Tujuannya, supaya keuntungan bisa menjadi lebih optimal dan bisa tetap mejaga jumlah produksi serta memastikan energy security.

    Fabby menuturkan, joint operation dalam industri migas adalah hal yang biasa. Dengan cara ini, juga bisa membagi beban biaya yang besar dan beban risiko yang mungkin muncul.

    Apalagi dengan kondisi keuangan Pertamina, menurut Fabby, yang belum terlalu bagus untuk ekspansi. Ia menyatakan cara ini dalam mengelola Blok Rokan terlihat lebih optimal untuk memastikan jumlah produksi tak terganggu dan pasokan energi mencukupi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.