BNI: Kenaikan Suku Bunga Acuan Tak Harus Diikuti Bunga Bank

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasabah mengisi slip rekening di Bank BNI, Kebun Sirih, Jakarta, (18/5). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memberikan layanan perbankan kepada nasabah selama cuti bersama. Layanan yang diberikan bersifat terbatas dan dilakukan melalui outlet-outlet khusus di sejumlah lokasi tertentu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Nasabah mengisi slip rekening di Bank BNI, Kebun Sirih, Jakarta, (18/5). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memberikan layanan perbankan kepada nasabah selama cuti bersama. Layanan yang diberikan bersifat terbatas dan dilakukan melalui outlet-outlet khusus di sejumlah lokasi tertentu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI masih mengkaji respons terhadap keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Repo Rate sebesar 50 basis poin. "Intinya, kenaikan BI 7 Day Repo Rate tidak harus diikuti kenaikan suku bunga bank," kata Coorporate Secretary BNI Ryan Kiryanto saat dihubungi, Sabtu, 30 Juni 2018.

    Apalagi, kata Ryan, BI juga memutuskan kebijakan makroprudensial dalam konteks relaksasi loan to value atau LTV untuk mendorong permintaan riil kredit perumahan atau KPR. Keputusan bank dalam mengelola suku bunga bergantung pada strategi, kondisi likuiditas terutama posisi dana murah, posisi persaingan, perkiraan suku bunga acuan BI, arah kebijakan makroprudensial BI, dan arah pandangan atau visi bank ke depan.

    Baca: Siap-siap, Suku Bunga Kredit BRI Naik Bulan Depan

    Pada 29 Juni 2018 Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin  menjadi 5,25 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur BI.

    Keputusan kenaikan suku bunga acuan itu juga diikuti kenaikan deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,5 persen. Sedangkan lending facility naik sebesar 50 basis poin menjadi 6,00 persen. Dengan kenaikan tersebut, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dalam enam bulan terakhir.

    Baca: Bank Mandiri Tahan Suku Bunga Kredit Hingga Akhir Tahun

    Menurut Ryan, keputusan BI menaikkan BI7DRR 50 basis poin jadi 5,25 persen oleh RDG BI kemarin terbilang agresif. Namun, Ryan bisa memahami karena itulah strategi BI untuk ciptakan dan perkuat stabilitas makroekonomi.

    Ryan mengapresiasi keputusan kenaikan suku bunga oleh BI tersebut sebagai respons atas naiknya level ketidakpastian ekonomi global menyusul langkah dan kebijakan AS di bawah Donald Trump yang dinilai menambah ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut, kata Ryan, lantaran isu trade war antara Amerika Serikat dengan Cina yang makin menguat. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.