MNC Bank Siapkan Rights Issue Rp 489,6 Miliar

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Bank MNC Internasional Tbk. Wikipedia.org

    Logo Bank MNC Internasional Tbk. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta -PT Bank MNC International Tbk tengah menyiapkan rencana penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp 489,6 miliar pada Juni 2018. Melalui aksi korporasi ini, Bank MNC akan menerbitkan sekitar 4,9 miliar saham atau 22,22 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh, dengan nilai penawaran Rp 100 per saham. “Kami menargetkan dapat terserap hingga Rp 450 miliar,” ujar Direktur Utama Bank MNC Benny Purnomo, di Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

    Baca: MNC Bank Milik Hary Tanoesoedibjo Telan Rugi Bersih Rp 685 Miliar

    Benny menuturkan proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diperkirakan selesai pada 25 Mei 2018, dan saham baru akan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2018. “Ini kami lakukan untuk memperkuat struktur permodalan, dan setelah right issue kami harap modal kami sudah berada di kisaran Rp 1,5 triliun,” ucapnya.

    Bank MNC sebelumnya telah berkomitmen untuk rutin melakukan right issue setiap tahun hingga mencapai maksimal Rp 2,5 triliun pada 2021, dan dapat naik statusnya menjadi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III. Saat pertama kali masuk di 2014, Grup MNC telah mengucurkan modal sebsar Rp 600 miliar, selanjutnya di 2015 Rp 400 miliar, dan 2016 sebesar Rp 145 miliar.

    Sedangkan, tahun lalu Bank MNC menerbitkan rights issue dengan target Rp 500 miliar pada pertengahan tahun lalu. “Tahun lalu agak missed sekitar Rp 68 miliar karena ekonomi sedang lesu, sehingga OJK pun meminta kami fokus melakukan konsolidasi dulu, tapi tahun ini kami optimistis bisa terserap Rp 450 miliar,” kata Benny.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.