Pengusaha Klaim Makarel Sudah Penuhi Standar, Kok Ada Cacing?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konferensi pers oleh Badan Pengawas Obat (BPOM) dan Makanan bersama sejumlah lembaga lain terkait temuan cacing dalam ikan makarel kaleng di Kantor BPOM, Jakarta, 6 April 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    Konferensi pers oleh Badan Pengawas Obat (BPOM) dan Makanan bersama sejumlah lembaga lain terkait temuan cacing dalam ikan makarel kaleng di Kantor BPOM, Jakarta, 6 April 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok pengusaha mengklaim telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan dunia dalam pengelolaan produksi ikan makarel.

    Satu-satunya alasan mengapa bisa muncul parasit cacing anisakis pada produk mereka disebut karena fenomena alam. Fenomena alam yang dimaksud adalah dugaan ledakan populasi cacing di perairan tertentu dan dalam waktu tertentu.

    "Jadi teknologi yang diterapkan itu sudah sesuai standar dunia. Tapi memang ternyata ada fenomena tadi," kata Ketua Harian Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Ady Surya di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jakarta Pusat, Jumat, 6 April 2018.

    Simak: BPOM Pastikan Ikan Kaleng Selain Makarel Aman Dikonsumsi 

    Ady mengatakan semua ikan makarel didatangkan secara impor. Ikan makarel tak didapati di perairan tropis Indonesia, melainkan pada perairan sub tropis.

    Bahan baku ikan makarel diterima pengusaha dalam keadaan mati minus 20-40 derajat celcius. "Baru diproses, dibuang isi perutnya, dimasak, disterilisasi, vakum 120 derajat. Itu bakteri aja mati," ujar Adi.

    Ady mengatakan kebanyakan impor ikan makarel berasal dari Jepang, Korea dan Cina. Namun, dia tidak mengetahui di perairan mana ikan ditangkap.

    Saat ini, Ady mengatakan ada berkisar 44 pabrik pengelolaan ikan di Indonesia. Sebanyak 26 di antaranya mengolah ikan tuna dan makarel.

    Dalam setahun, pengusaha Indonesia mengimpor puluhan ribu bahan baku ikan makarel. "Untuk ikan makarel sekitar 70 ribu ton setahun," katanya.

    Sebelumnya pada Temuan BPOM, sebanyak 27 merek produk ikan makarel kaleng disebut positif mengandung parasit cacing. Sebanyak 16 merek merupakan impor dan 11 lainnya produk lokal. Dari merek-merek tersebut, hanya 138 bets atau kode produksi yang mengandung parasit cacing.

    Akibat kasus tersebut pemerintah menghentikan sementara produk jadi ikan makarel kaleng dari luar negeri. Sementara untuk bahan baku ikan makarel yang diimpor oleh pengusaha Indonesia, pengawasannya diperketat.

    Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo mengatakan belum bisa menjelaskan penyebab pasti dugaan ledakan populasi cacing Anisakis.

    "Paling sederhana perubahan cuaca yang drastis, musim hujan, kemarau panjang, atau hujan terus menerus atau keseimbangan ekosistem berubah," kata Nilanto.

    Selain itu itu, Nilanto juga belum mengetahui dimana lokasi pasti perairan ikan makarel yang menjadi titik ledakan populasi cacing. Namun, Nilanto mengatakan kasus serupa pernah terjadi di kawasan Amerika Selatan pada medio Desember 2017-Januari 2018. Sebelum kasus itu, belum mendapat laporan serupa.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.