ADB: Pekerja Indonesia Perlu Menyesuaikan Diri dengan Teknologi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membuat tahu di pabrik tahu rumahan di Jakarta, 10 Juni 2015. Pengrajin tahu gunakan kedelai impor karena dirasakan lebih murah dibandingkan dengan kedelai lokal yang memiliki harga sekitar Rp 7.000 per kg hingga Rp 7.500 per kg.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja membuat tahu di pabrik tahu rumahan di Jakarta, 10 Juni 2015. Pengrajin tahu gunakan kedelai impor karena dirasakan lebih murah dibandingkan dengan kedelai lokal yang memiliki harga sekitar Rp 7.000 per kg hingga Rp 7.500 per kg.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil studi terbaru dari Asian Development Bank (ADB) mencatat ada tiga hal yang harus diperhatikan Indonesia terkait dengan penciptaan lapangan kerja yang baik dan berkualitas. Wakil Presiden ADB Bidang Pengelolaan Pengetahuan dan Pembangunan Keberlanjutan Bambang Susantono mengatakan tiga hal ini diperlukan demi terciptanya angkatan kerja yang terampil dan adaptif terhadap perkembangan global. 

    "Indonesia tak hanya perlu menciptakan angkatan kerja yang lebih terampil, tapi juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi global yang cepat dan perbaikan keterampilan yang diperlukan," kata Bambang di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018.

    Simak: Jadi Wakil Presiden ADB, Ini Misi Bambang Susantono

    Pertama, Bambang menyebutkan perlunya peningkatan pendidikan dan pengembangan keterampilan agar tercipta cukup banyak lapangan kerja berkualitas untuk meningkatkan produktivitas.

    Hasil studi ADB mencatat bahwa kontribusi produktivitas tenaga kerja Indonesia terhadap produk domestik bruto masih lambat. Pada 2010, kontribusi PDB tiap tenaga kerja Indonesia ada pada kisaran US$ 10 ribu. ADB menyatakan Indonesia perlu meningkatkan produktivitas 60 persen untuk mencapai pertumbuhan PDB sebesar 7 persen.

    Kedua, Bambang juga menyinggung soal kebijakan publik yang harus mendukung pertumbuhan kota secara berkesinambungan. Adapun yang terakhir, yakni perlunya upaya berkelanjutan untuk menyempurnakan institusi dan peraturan pasar ketenagakerjaan demi menciptakan pilihan pekerjaan yang makin luas dan jaminan penghasilan yang lebih baik bagi para pekerja.

    Bambang berujar studi ADB ini mengidentifikasi prakarsa kebijakan yang berfokus pada lapangan kerja, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan memfasilitasi adaptasi para pekerja terhadap tantangan digital. Bambang mengatakan ADB mengkaji isu-isu tersebut baik dari sisi pasokan maupun permintaan (supply and demand).

    "Para pembuat kebijakan perlu memastikan bahwa peningkatan produktivitas juga mencakup kelompok miskin, perempuan, lansia, dan kelompok yang kurang beruntung lainnya," kata Bambang.

    Adapun studi ini dikerjakan ADB bersama Kementerian Koordinator Perekonomian. Studi ini menghasilkan sebuah buku bertajuk "Enhancing Productivity through Quality Jobs" yang diluncurkan di Jakarta, hari ini.

    Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha, Kecil, dan Menengah Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin mengatakan Indonesia memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan dari angkatan kerja yang masih muda.

    "Ini bisa dimanfaatkan dengan mengatasi tantangan jangka panjang dalam penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang lebih inklusif," kata Rudy.


  • ADB
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?