Rabu, 14 November 2018

Coldwell Banker: Waspadai Risiko Fintech Danai Sektor Properti

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sales menjelaskan pada pengunjung promo perumahan yang di pamerkan dalam acara Indonesia Properti Expo di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, 11 Februari 2018. Sekitar 40 persen pembelian rumah ditawarkan dalam skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi, sementara 60 persen sisanya KPR nonsubsidi. TEMPO/Fajar Januarta

    Sales menjelaskan pada pengunjung promo perumahan yang di pamerkan dalam acara Indonesia Properti Expo di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, 11 Februari 2018. Sekitar 40 persen pembelian rumah ditawarkan dalam skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi, sementara 60 persen sisanya KPR nonsubsidi. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, JakartaVice president konsultan properti Coldwell Banker, Dani Indra Bhatara, menyebut perkembangan teknologi finansial di era digital (fintech) ke sektor properti sebagai alternatif sumber dana yang menarik perlu direspons secara hati-hati. Pasalnya, ada sejumlah risiko dari perkembangan fintech tersebut yang harus diwaspadai.

    Dani mengatakan perkembangan fintech di properti salah satunya disebabkan oleh makin dibatasinya sektor perbankan mengucurkan dana ke properti, baik ke pengembang maupun ke konsumen (KPR). Sehingga kebutuhan akan dana ini membuat alternatif sumber dana menjadi menarik.

    Baca: Dorong Penjualan Properti, BTN Bakal Kolaborasi dengan Fintech

    “Khususnya untuk konsumen yang tidak bankable karena bekerja di sektor informal, yang kesulitan mendapatkan dana dari bank, dapat beralih ke fintech,” kata Dani di Jakarta, akhir pekan lalu.

    Dani mengatakan hal itu terkait dengan bermunculannya perusahaan rintisan yang terjun di bisnis pembiayaan dan investasi di sektor properti. Sebut saja Gradana, yang menawarkan pembiayaan peer-to-peer lending dan Nabung Pro, dengan program investasi properti berjemaah (crowdfunding).

    Prospek fintech saat ini, menurut Dani, masih baik karena baru mulai marak. Belum banyak yang mengetahui dan menggunakan sumber ini karena belum tahu informasinya, belum tahu caranya, ada kekhawatiran tidak aman, dan lain-lain. Namun, dengan berjalannya waktu dan edukasi yang makin baik, tentunya fintech akan lebih mudah diterima masyarakat.

    Menurut Dani, risiko fintech tak berbeda dengan lembaga seperti bank yang sudah mapan. Apalagi lembaga yang baru terbentuk dan belum diketahui kinerja jangka panjangnya. Tapi, saat ini, fintech sudah diawasi OJK sehingga lebih termonitor dan sudah ada rambu-rambunya.

    Lebih jauh, Dani menyebutkan, sektor properti secara umum dapat terbantu dengan adanya alternatif pembiayaan ini. “Fintech ini dapat meningkatkan konsumen yang mampu membeli properti karena memiliki jalur pembiayaan serta mendorong pengembang dapat mengembangkan proyek baru dengan dukungan dana fintech tersebut.”

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?