Bank Mandiri: Manufaktur Belum Jadi Primadona Investor

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial pembangunan proyek jalur layang MRT di Kawasan Fatmawati, Jakarta, 2 Januari 2018. Menurut data PT MRT Jakarta, proyek pembangunan infrastruktur MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran HI mencapai 90 persen. ANTARA

    Foto aerial pembangunan proyek jalur layang MRT di Kawasan Fatmawati, Jakarta, 2 Januari 2018. Menurut data PT MRT Jakarta, proyek pembangunan infrastruktur MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran HI mencapai 90 persen. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, mengakui sektor manufaktur atau pengolahan belum menjadi primadona bagi investor. Menurut dia, kondisi tersebut juga ditambah oleh minimnya perusahaan di Indonesia yang fokus pada hilirisasi produk.

    "Saat ini lebih banyak investasi masuk ke maupun sawit," katanya di sela-sela acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2018 di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018. "Sementara investasi yang mulai tumbuh ada di sektor mineral dan consumer goods."

    Acara MIF 2018 sendiri digelar oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan Mandiri Sekuritas, diikuti lebih dari 600 investor dan pelaku bisnis, dari dalam dan luar negeri. MIF 2018 ini digelar untuk menciptakan sinergi antar investor dan pemangku kepentingan, demi meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Persoalan terkait manufaktur memang telah beberapa kali diungkapkan oleh sejumlah menteri Presiden Joko Widodo. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan bahwa pemerintah memang tengah mengembalikan peran manufaktur sebagai motor penggerak ekonomi Indonesia. Tiga sektor yang diprioritaskan pemerintah adalah industri kilang dan petrokimia, industri besi dan baja, serta industri kimia dasar.

    Saat ini, kata Kartika, hilirisasi dan pengolahan memang masih dominan berasal dari minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Sebab, bahan baku untuk pembuatan produk turunan tersebut mudah didapatkan di Indonesia. "Jadi untuk sektor lain, terutama yang capital intensive dan labour intensive, memang harus ada dorongan dari pemerintah," ujarnya.

    Chairman of Advisory Board Mandiri Institute, Chatib Basri, sektor manufaktur memang harus mendapatkan insentif dari pemerintah, salah satunya lewat insentif pajak. Selain itu, kemudahan perizinan untuk memulai bisnis juga harus terus ditingkatkan. "Kemudahaan bisnis di tingkat pusat memang sudah baik, tapi di daerah yang belum, padahal bikin industrinya kan justru di sana," kata Chatib.

    Ia mengakui tantangan peningkatan kapasitas manufaktur cukup besar, ditengah pertumbuhan kredit yang masih melemah. Padahal, kata Chatib, investor maupun perbankan bisa melihat manufaktur sebagai sektor yang lebih baik. "Karena lebih stabil, dibandingkan dengan natural resources yang volatilitasnya sangat tinggi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.