PINA Kaji Tiga Proyek Berikut untuk Dibiayai Lewat Skema Green Bonds

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso memberikan sambutan dalam acara launching Peraturan OJK tentang Obligasi Daerah, Green Bond, dan E-Registration di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 29 Desember 2017. TEMPO/Andita Rahma.

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso memberikan sambutan dalam acara launching Peraturan OJK tentang Obligasi Daerah, Green Bond, dan E-Registration di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 29 Desember 2017. TEMPO/Andita Rahma.

    TEMPO.CO, Jakarta-Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut ada tiga proyek yang tengah dikaji untuk dibiayai dengan skema green bonds (obligasi hijau). Ketiga proyek tersebut adalah Bandar Udara Kertajati, Pelabuhan New Tanjung Priok, dan Pembangkit Listrik Tenaga Air Jatiluhur.

    "Kami petakan dulu, salah tiganya itu Kertajati, airport. Pelindo II, seaport. Lalu Jatiluhur," kata Chief Executive Officer Unit Tim Fasilitas Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto usai penandatanganan kerja sama (MoU) antara PT Efek Beragun Aset Indonesia dan Climate Bonds Initiative di kantor Bappenas, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018.

    Kendati begitu, Eko belum dapat memastikan apakah proyek tersebut sudah pasti akan dibiayai PINA melalui skema obligasi hijau ini. Dia berujar, PINA saat ini masih dalam tahap memperkenalkan skema green bonds untuk proyek-proyek infrastruktur non-jalan raya.

    Eko mengaku Bappenas sudah berkomunikasi dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara dan pelaksana proyek lain yang disasar untuk dibiayai dengan skema ini, seperti Angkasa Pura II, Pelindo II, dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat. Eko menekankan, infrastruktur merupakan proyek yang cocok dibiayai dengan skema green bonds ini lantaran sifatnya berjangka panjang. Adapun tenor green bonds ini bisa mencapai 30 tahun.

    "Kami belum mengikat dengan target tertentu karena masih ada pertanyaan yang basic juga. Apakah dari sisi price lebih murah, mahal, atau ada proses lain yang membuat jadi lebih lama," ujarnya.

    Hari ini, PINA memfasilitasi penandatanganan kerja sama (Memorandum of Understanding) terkait green bonds antara PT Efek Beragun Aset Indonesia dan Climate Bonds Iniatiative. Kedua lembaga tersebut menyatakan komitmennya mendukung pembiayaan infrastruktur yang berwawasan lingkungan.

    CEO Climate Bonds Initiative Sean Kidney mengatakan lembaganya menganggarkan US$ 3 miliar untuk skema green bonds di Indonesia. Sean mengatakan nilai itu merupakan alokasi hingga 2019.

    "Kami berharap dapat menerbitkan sekitar US$ 3 miliar hingga tahun depan," ujar Sean.

    Selain ketiga proyek di atas, PINA mengkaji skema green bonds untuk membiayai proyek berbasis energi baru terbarukan. Eko mengatakan, dalam merekomendasikan proyek, PINA juga mensyaratkan internal rate of return (IRR) proyek terkait di atas 13 persen.

    "PINA mensyaratkan IRR di atas 13 persen untuk proyek itu bisa eligible kalau pendekatannya equity financing. Tapi kalau sekuritasisasi hitungannya saya yakin masih di atas 13 persen, ada hitungan lainnya lagi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?