Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Melemah, Dolar Menguat

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Ilustrasi Rupiah. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Jumat, 2 Februari 2018, setelah ditutup turun 0,21 persen atau 28 poin di Rp 13.452 per dolar AS.

    Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp 13.407–Rp 13.460 per dolar AS.

    Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ memperkirakan rupiah akan melemah hingga Rp 13.600 per dolar AS pada akhir tahun karena defisit neraca perdagangan dan neraca berjalan yang lebih besar, menyusul kenaikan belanja infrastruktur dan kenaikan nilai impor energi.

    “Lonjakan mata uang pada bulan Januari menunjukkan bahwa Bank Indonesia tidak peduli dengan mata uang yang lebih kuat seperti sebelumnya, ketika lebih cenderung mempertahankannya sedikit lebih rendah,” ungkap riset Bank Of Tokyo-Mitsubishi UFJ.

    Baca juga: Dibayangi Aksi Jual, Rupiah Diprediksi Menguat Tipis

    Bersama rupiah, mayoritas mata uang lainnya di Asia terpantau melemah, dipimpin won Korea Selatan yang melemah 0,75 persen, disusul yen Jepang yang terdepresiasi 0,43 persen.

    Adapun ringgit Malaysia dan renminbi Cina menguat masing-masing 0,33 persen dan 0,15 persen.

    Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau menguat 0,23 persen atau 0,201 poin ke level 88,872 pada pukul 16.33 WIB.

    Pagi tadi, rupiah dibuka dengan penguatan 0,13 persen atau 17 poin ke level Rp 13.407 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Kamis, 1 Februari 2018, rupiah berakhir melemah 0,28 persen atau 38 poin di posisi 13.424.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.